![]() |
| source image: google |
"terserah sih, gue ngikut aja" timpal abenk ke ryan
"Yaudah, jalan aja" jawab juna. diikuti aku, radit dan fendi yang mengangguk setuju.
Akhirnya, kita menunggu mobil yang lewat sambil berjalan kaki. Sudah sangat jauh berjalan, kita memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah warung. Ryan langsung memesan 3 gelas kopi dan mengambil beberapa bungkus makanan di meja. Sedang kita semua menikmati kopi, ada mobil pickup berhenti tepat didepan warung dan salah satu orang keluar dari mobil langsung menuju warung.
"nah, kebetulan banget nih ada mobil kosong, ayo siap-siap" seru ryan sambil langsung berlalu ke arah sang sopir, mungkin dia mau ngomong minta izin buat numpang, dan ternyata bener ryan langsung mengajak kita semua naik ke bak mobil. Sekembalinya sibapak yang ke warung, mobil pun langsung melaju.
Rasa lelah akibat berjalan kaki tadi, kita bayar dengan langsung tepar dibak mobil dengan memakai tas masing-masing sebagai bantalnya. Tak lama, juna, abenk, dan radit sudah tak sadarkan diri. Mereka langsung tertidur. Cuma aku dan fendy meski tiduran tapi mata masih terjaga, sementara ryan masih saja duduk, terlihat dia sedang sibuk buka-buka dompet dan memeriksa saku-saku di celana dan jaketnya.
"Ada apa yan?" tanyaku penasaran
"ngga, cuma lagi bingung aja" jawab ryan sambil terus tangannya sibuk
"iya bingung kenapa?" aku beranjak dari posisi tidurku
"duit cuma sisa 8 ribu nih, rokok juga tinggal 7 batang lagi. Mana perjalanan masih jauh" jawab ryan diiringi dengan hela nafas panjang. Dan aku tak menjawab, sejenak aku terdiam tapi aku memahaminya.
Aku menoleh fendi sesaat dan kembali keposisiku tiduran seperti semula. Aku topang kepalaku dengan kedua tangan, mataku menatap keatas langit yang dihiasi taburan bintang, bulan seperti terus mengikuti kemana arah mobil berjalan. Dari jalanan yang tadinya sangat sepi, sekarang mulai terasa ramai. Ternyata mobil sudah masuk ke jalan provinsi. Lalu sampailah dilampu merah. tapi sayang, mobil yang kita tumpangi arahnya lurus, dengan sangat terpaksa kita pun harus turun karena berbeda arah. Refleks ryan langsung berdiri dan meminta pak supir untuk berhenti, sementara aku dan fendy sibuk membangunkan radit, juna dan abenk yang lagi tidur.
"Duit cuma sisa 8 ribu, mau diapain?" ryan memperlihatkan isi dompetnya
"kalau masih ada rokok, beli makanan aja yan" ucap abeng sambil menguap
"rokok tinggal sisa 7 batang" ryan mengeluarkan bungkus rokok dan korek dari sakunya
"Yaudah, aman" jawab juna.
"oke, kalian nyebrang duluan, gue mau beli makanan. Temenin gue fen" ryan menarik baju fendi kemudian pergi. Sementara aku dan yang lain langsung menyebrang jalan dilampu merah.
Tak lama, ryan dan fendi datang dengan membawa bungkus plastik berisi gorengan. Istirahat sejenak mengisi perut yang lapar dengan gorengan. setelahnya, kita kembali melanjutkan untuk menghentikan mobil. Berkali-kali mencoba tapi selalu gagal, mobil yang lewat hampir selalu dengan kecepatan tinggi. Mulai putus asa dan kehilangan semangat, tetapi ryan terus memaksa agar perjalanan segera dilanjutkan.
Melihat kondisi radit dan abenk yang seperti sangat mengantuk, juna pun menolak keinginan ryan yang bersikukuh untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tapi ryan mengabaikan keinginan juna tersebut. Akhirnya kita terpecah menjadi 2 kubu, ryan, aku dan fendi di kubu untuk lanjut, sementara juna, radit dan abeng dikubu untuk istirahat. Kesolidan diantara kita hancur, komukasi terhenti, Kita semua saling diam tak bicara.
Mobil selanjutnya pun datang, ryan aku dan fendi masuk ketengah jalan dengan sangat nekad, akhirnya mobil mau berhenti. Kita bertiga naik, tapi juna, radit dan abenk tetap saja duduk tanpa memperdulikan sampai mobil mulai berjalan cuma ada aku, ryan dan fendi yang dimobil. Sudah beberapa ratus meter jauh mobil meninggalkan juna, radit dan abeng. Kemudian ryan meminta berhenti ke supir, aku dan fendi meloncat disusul ryan. Setelah turun, ryan mengajak aku dan fendi kembali ketempat awal dimana juna, radit dan abeng ditinggal.
"Kalian tolol, sudah tau mobil susah dihentikan, kenapa gak naik?" bentak ryan penuh emosi ke juna, radit dan abenk
"anjink, gue ngantuk!" abenk berdiri dan melemparkan tas ke arah ryan
Melihat ryan dan abenk yang sudah penuh emosi, aku dan fendi mencoba menahan ryan, akupun menyuruh juna menahan abenk agar tak terjadi perkelahian. Beruntung keduanya masih bisa ditahan. Dan juna masih bisa diajak kompromi, juna akhirnya mau untuk melanjutkan perjalanan, kita berempat sepakat membebaskan abenk dan radit dari segala aktivitas, bahkan saat dapat mobil pun kita berempat prioritaskan abenk dan radit yang sudah sangat lemah untuk menaiki kendaraan terlebih dahulu.
Walau sudah kembali menaiki kendaraan bak terbuka, tapi suasana masih belum mencair, cuma aku dan juna yang terlibat obrolan, yang lain semuanya terdiam. seperti masih menyimpan kekesalan masing-masing. Sampai mobil kembali berhenti dan kita semua turun, abenk dan radit langsung menuju ke emperan toko, disusul aku dan juna kemudian ryan dan fendi mengikuti dari belakang. Aku dan mereka langsung menjatuhkan badan. kecuali juna, dia hanya duduk didekatku. Kali ini memang harus istirahat, sudah sangat lelah terasa, hanya dengan sekejap mereka semua langsung terlelap. meski diemperan toko, ryan radit, abenk dan fendi tidur begitu nyenyaknya. Aku juga merasakan ngantuk dan capek, tapi sangat susah untuk bisa memejamkan mata. akhirnya aku menemani juna yang masih duduk bersandar ke rolling door toko.
Sudah lewat tengah malam, suasana disini begitu sepi, hanya terlihat api-api kecil dengan asap dari pembakaran di tong sampah di seberang jalan. tak ada mobil yang lewat satu pun, yang ada hanya hembusan-hembusan angin malam yang semakin membuat dingin tubuh ini.
Suara langkah cepat dan keras dari sepatu berhak, mengalihkan perhatianku. Dari penerangan lampu jalan terlihat dua sosok berambut panjang sambil mengobrol, berjalan semakin mendekat kearahku.
"ehh hey, ini kok pada tidur dipinggir jalan?" dengan suara agak bindeng salah satu dari dua orang itu menyapa aku dan juna yang kebetulan masih melek.
Sial, ternyata mereka waria. Aku yang tadinya sedang duduk langsung pura-pura tidur, aku menundukan kepalaku kelutut. Dengan sesekali mencoba mengintip mereka. Sumpah, aku takut sebenarnya akan keberadaan mereka didekatku saat itu.
"iya nih mas" tiba-tiba juna malah menjawabnya.
"heh, ganteng-ganteng suka rumpi yey, masa cantik begini dibilang mas" jawab orang itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulut yang dibalut bibir berwarna merah merekah
"udah yuk, pulang ah" ucap satu orang lagi
Lalu aku kembali membuka mataku setelah mereka pergi, Belum jauh 2 waria itu berjalan, tiba-tiba juna malah teriak memanggil waria itu. Kemudian dia berdiri dan lari menyusulnya. Dari kejauhan, terlihat juna mengobrol, lalu tangan juna mengarahkan tangannya menunjuk padaku. waria itu menolehku.
"jazz, sini" juna memanggilku
Kaget setengah mati, apa maksud si juna malah menanggilku, Sudah tau aku takut dengan mereka. aku tetap mendiamkan juna yang memanggilku. Aku hanya mengamati mereka dari kejauhan. Kembali kulihat, sekarang tangan waria itu seperti memegang kearah bagian kelamin si juna. setelah itu si waria seperti memberi sesuatu ke juna. Lalu mereka pergi dan juna kembali sambil senyum-senyum.
"bego, gue panggil malah diem aja lu" juna kembali duduk dengan tangannya mentoyor kepalaku.
"elu yang bego, ngapain manggil-manggil gue segala?" tanyaku kesal
"ngga, tadi itu gue minta rokok. Gue mintain buat elu juga tapi dia gak mau ngasih. Malah suruh elunya yang ngambil sendiri" jawab juna
"ya kan lu tau sendiri, gue takut sama yang begituan" timpalku
"lagian apa yang harus ditakutin, sama-sama manusia juga kan?" juna mulai menyalakan rokoknya
"asal lu gak rese, ya mereka juga gak bakal rese kali jazz" fyuhhh, asap tebal keluar dari mulut juna.
"terus, tadi kaya keliatan ada ngeraba-raba kelamin lu. Itu ngapain?" tanyaku penasaran
"Dia becanda, kan gue minta rokok. Malah dianya bilang rokok kamu yang ini pasti gede. gitu dia bilang" jawab juna
"ouh, yaudah sini gue nyoba rokoknya" Akupun mendekat ke juna
"Rokok yang mana nih?" juna menatapku
"inilah, masa yang itu" tanganku mengambil batang rokok yang dijapit jari tangan juna
"hahaa, kirain yang ini" juna menunjuk
"taik lu" jawabku, dan mulai menghisap rokok yang baru aku ambil dari tangan juna
Akhirnya aku dan juna bergantian menghisap sebatang rokok pemberian dari waria itu sampai habis. Sampai waktu menjelang hampir jam 3, terlihat dari jam digital yang dipakai juna. Ryan dan temen yang lain pun bangun dari tidurnya, karena suasana disini sudah mulai ramai, tempat ini memang sepertinya pasar pagi. Dan kitapun melanjutkan perjalan dengan naik mobil yang habis mengantarkan sayuran. Sampai lewat subuh akhirnya kita sampai dengan selamat kembali kerumah.
hahh? apa tadi, aku?
iya. aku, kenapa?
nggak, nggak apa-apa sih.
terus kenapa kaya kaget gitu?
hmm, berasa lucu aja gitu bacanya kalau pake kata aku, biasanya kan pake gue gitu.
oh itu, sengaja sih gue ehh aku cuma mau belajar nulis dengan EYD aja.
wuihh, tumben amat mau belajar bener, ada apa nih?
banyak nanya amat lu daritadi, baru juga mau nulis padahal. mending duduk yang manis gih, simak aja tulisan gue. nah tuh kan lupa, aku maksudnya.
iyadeh iya, emang mau nulis apa sih kak?
ehh diem lu nyet, sekali lagi tanya gue sumpel mulut lu pake batang kejantanan, mau lu? arghh mauuu, mau banget kak, ayo donk sumpel aku, sumpel sekarang aja kak!!
dieem nyet dieemm, gue gampar pake laptop tau rasa lu.
jangan kakak, nanti aku sakit.
yaudah diem makanya.
iya kak aku diem deh, silahkan lanjut nulisnya.
oke, sampe mana tadi?
belum sampe mana-mana kak, kakak baru mau nulis kan tadi?
oh iya ya. .
source image: google
Beberapa bulan yang lalu dia datang, memasuki kehidupan gue yang jujur waktu itu gue dalam kegalauan tingkat tinggi karena ulah pasangan yang seperti tak berperasaan, tak memikirkan ada hati yang tersakiti karena sikap dan tingkah lakunya yang tak wajar.
Tulisan ini gue khususkan buat seseorang yang ada dibandung, gue gak tau harus dengan cara apa berterima kasih ke loe, karena sekarang loe udah sangat begitu jauh.
Tapi asal loe tau, gue masih inget akan waktu-waktu yang pernah kita lewati. Dari pagi sampai sore, dari malam sampai menjelang pagi. Berganti hari dan selalu loe bikin gue tertawa, bikin gue kesel dan paling parah bikin gue badmood sesaat kemudian tersesat didalam nikmat.
Karena kehadiran loe, gue lupa kalau gue lagi patah hati, gue lupa kalau gue lagi sedih. Loe hadir diwaktu yang tepat tapi dalam keadaan yang salah. Tapi bukan berarti loe salah, ini murni kesalahan gue. Kesalahan yang gue pertahankan, sudah jelas gue diacuhkan pasangan, tapi gue tetep bertahan didalam hubungan.
Sampe akhirnya loe mundur dan pergi dari kehidupan gue. Tapi gue gak akan lupa begitu saja tentang loe. Asal loe tau sekarang gue udah putus dengan pacar gue itu. Harusnya saat ini gue lagi sedih, harusnya gue lagi galau total dan kecewa karena diputusin. Tapi sama sekali itu gak berlaku buat gue.
Semua itu..
Ya karena loe juga, gue berhasil melewatinya nyaris tanpa rasa sedih, kecewa ataupun merasa terluka. Karena kehadiran loe juga gue berhasil membunuh secara paksa cinta ini ke dia, mengubur sedalam-dalamnya rasa ini, jauh sebelum gue diputusin dia kemarin.
Terimakasih sepenuhnya buat loe atas semua waktu yang diberikan ke gue beberapa bulan lalu. Kalau seandainya loe baca postingan ini, secepatnya DM gue di twitter yaa.
Gue: "lah mana gue tau, kirain udah pada disini semua" jawab gue
Ryan: " yee kan loe yang sering bareng si juna. Si abenk juga belum datang"
Fendi: " itu mereka tuh" seru fendi sambil tangannya menunjuk, kompak gue, ryan dan radit menoleh ke arah jalan dan memang terlihat juna dan abeng sedang berjalan. Tak lama juna dan abenk pun sampai.
Juna: "sorry telat men, tadi nyokap gue rada ribet"
Ryan: "Gak apa-apa sih, santai aja. Loe bawa gitar buat apaan jun?"
Juna: "Mau gue bawa lah, buat hiburan disana"
Ryan: "oh yaudah, asal jangan jadi ribet aja entarnya"
Juna : "sipp"
Abenk: "jadi kita mau ngebahas apa nih sekarang?" tanya abeng ke ryan
Ryan: "ya soal biaya, apa aja yang bakal kita beli buat bekal" kata ryan
Gue: "beli rokok sama kopi aja dulu sekarang, biar asyik ngobrolnya. Iya gak jun?"
Juna: "yoi men, pinter loe!!"
Fendi: "ide bagus itu" timpal fendi
Radit: "gue sih setuju, loe gimana benk?" sahut radit dengan dibarengi pertanyaan ke abenk
Abenk: "gak bisa nolak gue mah" jawab abenk sambil cengengesan.
Ryan: "roko sama kopi mah udah gue beli duluan, tuh di kardus. Bikin aja sendiri kalo mau pada ngopi"
Gue: "asyik, gue ambil ya" dengan sigap gue langsung menuju ke kardus dan mengambil satu renceng kopi dan membawanya ke dapur. Lalu gue kembali dengan membawa segelas kopi panas.
Juna: "ehh busyet, loe bikin kopi cuma segelas?"
Gue: "kenapa emang? Kan gue yang mau ngopi, Loe kalo mau ngopi bikin sendiri. Hahaa"
Juna: " ahh sialan loe, males gue bikinnya, Sini aja itu barengan sama gue"
Abenk: "kadang loe ngeselin jazz, goblog amat dah bikin kopi cuma segelas doank" gerutu abenk ke gue sambil berlalu pergi menuju dapur yang diikuti fendi. gue lalu duduk dekat juna, tak lama fendi dan abenk pun kembali dan ryan memulai pembahasan, sampai semuanya fix dan besok pagi kita akan berangkat.
Abenk: " maaf beh, kita mau ikut numpang kedepan. boleh ya beh?" dengan nada pelan abenk menjawab makian sopir pickup. Tapi tiba-tiba ryan langsung meloncat ke bak mobil diikuti juna yang kemudian berteriak mengajak gue radit dan fendi untuk segera ikut naik dan disusul dengan abenk yang meloncat. belum juga kami duduk tiba-tiba mobil langsung di gas, alhasil kita semua roboh jatuh dan saling bertumpuk didalam bak mobil. untunglah tak ada yang sampai jatuh keluar bak.
Menjelang malam, kita semua berkumpul diluar menikmati suasana malam yang begitu indah. kebetulan langit cerah, bintang bertaburan diangkasa mengitari sang bulan yang bersinar hanya separuh. dan api ungun yang kita nyalakan hanya mampu menerangi seadanya saja. sedang juna duduk santai diatas batu memainkan gitarnya dan kita semua asyik nyanyi-nyanyi tiba-tiba abenk berdiri dan masuk ke tenda. beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa satu botol whiskey ditangan.
abenk: "men, malam pertama kita disini bakal lebih indah dengan ini" sambil dia mengacungkan botol whiskey
ryan: "wuihh, keren loe sob. tau aja kalau itu kita butuhin"
abenk: "yoi men, gue tau lah kita semua bakal butuh kehangatan disini"
tanpa pake acara lama, abenk langsung membuka tutup botol dan menuangkan whiskey ke gelas. tanpa ada arahan pun kita semua sudah paham untuk langsung atur posisi, duduk melingkar dan gelas pun berputar. rasa hangat sudah terasa setelah beberapa tegukan. sampai akhirnya putaran berakhir seiring isi dalam botol kering tak bersisa. nampak mata sedikit sayu dan memerah, pandangan sudah samar, gerak sedikit badan terasa goyah. aghhh, indah sangat indah. sudah seperti tak ada batas, begitu bebas, bernyanyi, bercanda dan tertawa lepas malam ini.
source photo : flickr
Juna: "masuk yok jazz, embun udah turun nih" juna beranjak bangun dan mengajak gue masuk ke tenda
Gue: " iya ya, rada basah juga nih" sahut gue yang langsung berdiri lalu berjalan memasuki tenda.
Di dalam temen-temen rupanya sudah tertidur pulas berjajar merapat. gue dan juna kebagian tempat paling pinggir. gue langsung rebahan berselimut sarung sementara juna malah melepas celananya dan diganti dengan sarung dan kemudian rebahan disamping gue. hawa dingin begitu terasa menembus tulang meskipun sudah berselimut tapi tak bisa menahan dinginnya kaki pun terasa membeku.
Gue: "jun, gak bisa tidur gue, kaki gue dingin banget" bisik gue ke juna yang tidur disamping gue
Juna: "loe tolol, mau tidur jeans loe ga dilepas. ye pasti dingin lah" jawab juna
Gue: "emang ngaruh ye?" tanya gue lagi
Juna: "ye coba aja loe lepas celananya" akhirnya gue pun ngikut saran juna, gue lepas celana dan cuma memakai sarung seperti juna.
Gue: "gak ngaruh ah, sama aja masih dingin"
Juna: "tapi gak sedingin waktu tadi pakai jeans kan?" jawab juna
Gue: "dikit sih|"
Juna: "ehh, gimana kalau kita pake satu sarung berdua aja, satu lagi sarungnya buat selimut. biar gak terlalu dingin"
Gue: "boleh-boleh"
Juna: "mau sarung gue atau sarung loe yang buat kaki?"
Gue: "sarung loe aja, sarung gue buat selimutnya"
Gue coba balik badan membelakangi juna, tapi sial posisi kaki gue dan juna sedang saling bertumpu dan sarung tertindih kaki yang membuat ruang gerak menjadi kaku.
Juna: "loe kenapa sih? gak bisa diem dari tadi" tiba-tiba juna nyeletuk
Gue: "mmm, ngga ko. cuma berasa dingin aja ini" jawab gue rada gugup. dan tak disangka, juna malah bergerak mengangkat kakinya dan memiringkan badan lalu menaruh pahanya tepat diatas 'punya' gue. seperti merasa kaget juna kemudian bangun dan menyikutkan tangannya ke tubuh gue.
Juna: "k****l loe bangun ya?keras banget tadi berasa"
Gue: " #&^?*/- " njirr, mampus gue. sumpah gue bingung mau jawab apa
Juna: "woyy, pura-pura tidur lagi" omong juna lagi sambil kembali menyikut gue
Gue: " gak tau jun, efek alkohol mungkin ini" kelakar gue
Juna: "haaha, dasar loe" tiba-tiba juna malah tertawa kecil dan kembali tidur seperti posisi sebelumnya.
Dan gue langsung menghela nafas, melihat respon juna seperti itu. gue pikir dia bakal marah atau ngomong macem-macem ke gue.
Juna: "gue kira cuma gue doank" juna berbisik pelan ke telinga gue
Gue: "apaan yang yang loe doank?" tanya gue heran. tapi bukan jawaban yang keluar dari mulutnya, malah tangan juna secara tiba-tiba memegang tangan gue dan menyentuhkan ke 'punya'nya si juna.
Juna: "iya kan jazz" bisiknya
Gue: "loe apa-apaan dah, pake tangan gue dipaksa nyentuh segala" jawab gue sambil buru-buru menarik kembali tangan gue.
Juna: "hahaa, biar loe tau aja" jawab juna simple
Gue: "lagi keras banget ya jun?"
Juna: "iye, kena tangan loe tadi malah nambah makin keras nih"
Speechless dan sumpah gue heran dengar ucapan juna seperti itu. tapi belum juga keheranan gue berakhir, gue dikejutkan oleh fendi yang tidur disebelah gue yang mendadak bangun
Fendi: "bisa diem gak sih, gerak-gerak aja ganggu molor gue"
Gue: "ehh, tau tuh fen si juna"
Juna: "loe tolol, kenapa jadi nyalahin gue dah. gue kan paling pinggir"
Gue: "ohh iya ya, hahaa. sorry sorry fen. udah yok dilanjut lagi tidurnya"
dan akhirnya kitapun memulai untuk tidur walau harus saling berhimpitan satu dengan lainnya didalam tenda.
Satu persatu gue buka kancing dibaju seragam sekolah yang gue pakai, gue lepas baju dan menggantungkanya di gantungan yang menempel ditembok. lalu gue lepas juga celana dan hanya menyisakan celana dalam saja ditubuh.
gue: "gak ah, malu gue kalau dilepas"
juna: "kayak loe punya kemaluan aja pake malu segala" juna ngejek gue
gue: "hahaa, goblog!" jawab gue sambil merebut gayung di tangan juna.
juna: " oh ya, ini" juna memberikan sabun itu ke gue. sambil menyabuni tubuh, gue bertanya ke juna.
gue: "jun, tadi itu sebenernya loe ngapain sih? gue jadi gak bisa lupa sama kejadian tadi"
juna; "anak tolol, ngapain juga loe ingetin? udah lupain kejadian tadi"
gue: "gak bisa jun, gue inget aja dengan ekpresi loe tadi sampe kejang-kejang begitu"
juna: "hahaha, efek samping dari rasa nikmat mungkin itu"
gue: "apaan yang nikmat?"
juna: "kagak. ehh loe serius belum pernah kaya gitu?"
gue: "ya belum pernah lah, liat aja baru tadi gue. batang loe juga ternyata gede yaa. hahaa"
juna: "hahaa, dasar loe. emang punya loe kecil ya? coba mana gue liat"
gue: "ahh apaan? malu lah goblog"
juna: "yaelah, emang gue siapa pake malu segala. mana gue liat?" paksa juna yang kemudian mendekat dan langsung menarik CD gue kebawah sampai melorot, karna gue lagi sabunin badan dan gue gak sempet buat menahan posisi CD. akhirnya junior gue pun menampakan diri.
juna: "mana, sama aja kan ukurannya?" dengan tangan memegang penisnya, juna menunujukan dan mendekatkan ke penis gue.
gue: "ya beda lah goblog, ini kan lagi gak bangun, gue liat nya tadi kan yang lagi bangun"
juna: "ouh yaudah, kita samakan pas lagi bangun aja" omong juna seolah menantang
gue: " ahh gila, gimana caranya coba?" tanya gue dengan polosnya karena memang gue belum pernah membuat penis gue dipaksa untuk bangun. yang gue tau, gue bisa ngeliat penis gue bangun kalau di pagi hari dan atau ada rangsangan dari penglihatan. maklum lah umur gue kan masih kecil. hahaa
juna: "loe inget-inget bokep yang tadi pagi kita tonton aja sambil dimainin kaya gini" ucap juna sambil memperlihatkan penisnya yang lagi dimainin tangannya sendiri. parahnya gue langsung ngikutin saran juna, sambil menyandarkan pantat ke bak mandi gue memainkan penis gue sambil membayangkan film bokep yang udah ditonton tadi, dan saran juna memang berhasil, junior gue mulai bangun dan hampir mengeras dan akhirnya berdiri kokoh tegak menantang.
gue: "tapi tetep gedean punya loe kan jun" jawab gue rada gugup karena juna masih menempelkan penisnya dengan penis gue didalam genggaman tangannya.
juna: "iya sih. tapi ini kenapa punya loe makin mengeras yaa?" tanya juna. sontak gue kaget tapi gue cuma bisa diem. gue bener-bener gak tau musti ngomong apa. lalu tangan gue mendorong tubuh juna sampai dia mundur dan gengagaman tangan juna pun terlepas dari penis gue.
juna: "oh iya, gue lupa. nih" juna kembali dan melemparkan handuk dari luar pintu kamar mandi, kemudian dia pergi dengan telanjang menuju kamarnya.
juna: "iya, ini yang terakhir"
gue: "loe sih, ngerokok udah kaya kereta. asap ngepul aja terus"
juna: "yaudah sih ini aja stengan bareng gue"
gue: "mana sini' sambil tangan gue mencabut batang rokok yang dijapit jari tangan juna.
juna: "ahh anjink basah, ngapain loe gigit filternya sih?" tanya juna rada sewot, karena ujung filternya gue gigitin.
gue: "yaudah sini balikin rokoknya kalau gak mau basah"
juna: "setan loe, sengaja kan digigit rokoknya biar basah, biar loe enak sendiri"
gue: "hahaa, abis dari sebungkus gue cuma ngeroko 3 batang doank"
juna: "yaelah, itungan. cuma rokok doank, yaudah nih" tiba-tiba juna melumat-lumat busa filter rokok sampai basah dan menyodorkan rokok ke gue.
gue: "dih, ogah amat. udah dijilat-jilat gitu. loe makan aja sekalian puntungnya" jawab gue rada kesel
juna: "ahahaa, mampus loe. gue menang!"
gue: "taik loe!"
juna: "oh iya, ngomong soal makan, loe laper gak jazz?"
gue: "iya iya nih gue laper, tadi pagi cuma sarapan gorengan sama tadi makan roti yang loe beli"
juna: "yaudah, tahan aja ya kalau laper"
gue: "setan ya loe emang. gue kira tanya laper mau nawarin makan, taunya malah nyuruh ditahan. goblok!"
juna: "hahaha, eh tapi serius ko. kalau loe mau makan sana aja makan, cuma yaa didapur gak ada makanan"
gue: "kan loe tolol, percuma nawarin makan kalau gak ada makanan. apa yang mau dimakan coba"
juna: "loe masih ada duit gak?"
gue: "ada, tapi buat iuran mading. soalnya minggu depan giliran kelas gue yang pasang mading"
juna: "pake aja dulu duitnya. buat beli mie instant sama telor. gue juga laper sih ini"
gue: "terus ntar gue ganti darimana duitnya?"
juna: "gampang sih itu, loe kan paling jago soal tipu menipu ke orang tua. alesan aja lagi ada iuran lain"
gue: "bacot loe jun, kalau ngomong asal bunyi aja"
juna: "hahaa, udah cepet sini duitnya"
hari sudah menuju petang, jarum jam yang menempel di dinding tembok hampir menunjuk tepat di angka 2. waktu seakan menyuruh gue untuk segera pulang. akhirnya gue beranjak dari sofa bergegas ke halaman belakang untuk mengambil kembali seragam yang tadi gue jemur. sudah lumayan mengering dan gue pun balik ke ruang tamu langsung memakainya disana karena waktu itu gue cuma pakai kolor yang gue pinjem dari juna, sementara CD gue masukan ke tas. gue lalu keluar, kembali memakai sepatu dan akhirnya pamit ke juna untuk pulang.
sampai dirumah, gue langsung masuk kamar, melempar tas ke kasur dan langsung rebahan diatas kasur. telentang dengan mata memandang kosong ke langit-langit kamar. tiba-tiba bayangan juna melintas dipikiran gue, teringat kembali kejadian tadi pagi. kejadian yang baru pertama kali gue alami. menyaksikan antraksi seorang sahabat untuk memuaskan hasratnya sendiri. mendengar desis lirih suaranya, melihat maju mundur gerakan tangannya, sampai geliat hebat tubuhnya saat cairan kental putih menyembur keluar dari penisnya. entah, apa yang sebenarnya terjadi, gue semakin menikmati bayangan-bayangan itu. saat juna mendekat, menempelkan senjata pusaka kita berdua dalam satu genggaman. sensasi yang begitu berbeda yang baru gue rasakan dan mengingatnya tanpa disadari ada yang berontak sampai membuat sesak isi celana.
Dan gue malah jadi ikut-ikutan kebawa suasana, tapi untungnya bukan foto yang bakal gue share, gue cuma bisa share tulisan ini. iya, kalau mereka membuat foto narsis seperti ingin menunjukan ke mantan supaya berasa nyesel udah mutusin dia di waktu dulu. tapi tulisan gue yang ini bukan untuk mengarah kesana (baca: narsis), meski tulisan ini gue buat sangat tulus dari dalam hati, tapi please buat kalian barisan para mantan, jangan GeeR dulu sebelum kalian baca sampai habis tulisan ini.
Sebenernya gue males ngomongin soal mantan, pasti nanti mereka kira gue belum move on. bukan sih bukan itu. gue cuma mau ngungkapin perasaan gue yang sekarang terhadap kalian hey para mantan. mungkin gak penting, tapi ini serius. sebejad, seburuk, sejelek kalian ataupun gue, ada hal yang pernah kita lewati bersama, tertawa, jalan bareng, nonton, makan, menghabiskan waktu, saling merindu, saling sendu sampai mengharu biru, berantem, sampai saling melepas hasrat bersama. meski semua diawali dengan baik-baik tapi akhirnya harus selesai dengan saling mengabaikan.
Dear mantan, maafin gue yang dulu
Yang sering bikin kalian kesel, yang pernah menyakiti hati kalian, yang pernah membuat nangis kalian, yang pernah hilang tanpa kabar, yang pernah membuat kalian menunggu, yang pernah memaksa kalian untuk mendesah dan hal lain yang mungkin kalian masih ingat dan kecewa dan benci dengan gue sampai saat ini. maafin gue!
Meski kalian juga pernah menyakiti, mengkhianati, meningggalkan gue. tapi kalian adalah orang-orang terbaik yang pernah hadir melukiskan warna-warni di hidup gue.
Sampai kemudian terjadilah obrolan diantara mereka, si cowok mulai mendekat, mengelus-elus bagian paha si cewek lalu mereka berciuman diatas ranjang dan singkatnya mereka berdua sudah dalam keadaan telanjang, mereka asyik bercumbu, kemudian si cewek mulai memainkan pen*s si cowok dengan mulutnya. Tanpa diduga tiba-tiba si cowok yang satunya datang masuk ke kamar. seperti begitu kaget dia cuma bengong, melihat apa yang sedang dilakukan temanya, tapi kemudian si cewek melihat keberadaannya. entah si cewek ngomong apa sampai akhirnya cowok tadipun mendekat dan mulai melucuti pakaianya sendiri, akhirnya dia bergabung dengan temannya diatas ranjang.
Semakin panas saja adegannya, satu cowok sedang menjilati vag*na si cewek, dan si cewek begitu asyik menghisap pen*s cowok yang satunya. tapi tiba-tiba adegan tak lazim yang tak pernah terkira dan pertama kalinya aku lihat, si cowok yang pen*snya sedang dihisap si cewek tadi, dia juga menghisap pen*s temannya yang sedang menjilati vag*na. Aku yang tadinya sangat fokus menonton, sontak langsung berpaling ke arah juna, secara kebetulan hal yang sama juga dilakukan oleh juna. Tak bisa dihindari aku dan juna akhirnya jadi saling menatap. tak ada kata-kata sedikitpun antara aku dan juna, Kita hanya saling menatap saja waktu itu.
Aku dan juna mungkin saja kaget karena adegan di video memang gak lazim. Kemudian juna mengambil remot lalu video di skip sama dia. nonton yang tadinya seru tiba-tiba jadi gak asyik. Bukan karena videonya, tapi kelakuan si juna yang udah skip beberapa adegan videonya. mau protes tapi gak berani, lalu aku langsung balik lagi ke sofa dan rebahan.
"Berarti lu ngeliat gue donk daritadi?" tanya juna
"emang pintunya kebuka?" tanya juna sedikit heran
"udah, buka aja baju celananya, mandi aja sekalian. Hahaa" kata juna sambil tertawa, menertawakanku.





