Juna Bukanlah Arjuna - part 1



Suara drum begitu menghentak seisi ruangan yang tidak terlalu begitu terang, diikuti lengkingan suara lead guitar di player winamp yang keluar dari active speaker yang tersambung ke notebook. Suaranya seakan menerjang dan melempar gue jauh kedalam pikiran masa lalu. Lagu ini lagu yang sama-sama gue dan juna suka. Lagu dari Guns n roses dengan judul november rain. Lagu jadul sih, Tapi sampai saat ini lagu ini selalu hadir dalam playlist music gue.

Gue duduk dikursi, gue hisap kembali rokok, terpejam sesaat menikmati alunan dan fyuuhhh asap rokok tebal mengepul keluar dari mulut lalu menyentuh layar dan berpencar kemudian menghilang. jari-jemari kembali bergerak menggerayangi dan kadang menekannya dengan keras, juga kadang menekan lembut. semakin ingatan gue berjalan jauh semakin gue mengejarnya dan mempercepat ketikan tangan diatas keyboard notebook. hingga kata demi kata mulai mengisi hampir sebagian halaman putih dilayar, gue tekan enter dua kali dan kembali mengetik dalam paragraf baru.

Gue lagi menulis tentang juna, iya namanya juna tapi bukan arjuna. Juna cuma nama pendek dari nama panjangnya. dia satu-satunya teman atau bisa dibilang sahabat gue paling loyal waktu dulu. Dan dia juga ikut terlibat dalam perjalanan awal gue menuju ke dunia **y.

ingatan pun kembali berjalan mundur melewati masa belasan tahun kebelakang. meluncur ke sekitar tahun 2003/2004. gue dan juna itu sahabatan dari kecil, maen, bersekolah, mengaji, keluyuran malam selalu bareng juna. kita sama-sama anak yang nakal, anak yang doyan begadang, apapun kegiatanya dimana ada gue disitu ada juna, kecuali pas sekolah mungkin karena kita emang beda kelas.
Tampang juna sih gak ganteng-ganteng amat, masih gantengan gue kemana-mana, tapi itu dulu, kalo sekarang masih ganteng juga sih gue, cuma karena kurang perawatan jadi gantengnya kadang muncul kadang nggak.
hahaa..

Kalau si juna cuma menang di body, umur masih belasan tapi punya body udah ngebentuk. slim sih tapi jatuhnya tetep cool dan sexy. Dari si juna pula gue mengenal dunia rokok, dunia permikolan, dunia dru*s, dunia perbokepan, bahkan dunia perc*lian pun gue tau dari si juna.

Dulu sehabis sekolah gue dan juna jarang banget langsung pulang, kita suka nongkrong-nongkrong. dari sini gue mulai mengenal dunia rokok, awalnya gue gak mau tapi karena keseringan ditawarin akhirnya gue mulai mencoba dan akhirnya jadi perokok. dulu disetiap nongkrong gue selalu dapet rokok gratisan dari juna, semakin hari semakin gue mulai terbiasa dengan rokok, saat itu pula juna mulai mengurangi jatah rokok gratis. jadi gue musti beli kalau mau merokok. goblog kan ini orang? hahaa..

Dan ketika malam menjelang, kita suka ngumpul bareng temen-temen yang lain, keluyuran atau begadang sampai malem. dari hasil sering maen malem juga gue mulai mengenal mikol, merasakan tetes tetes setiap rasa dan kehangatan berbagai merk mikol murahan. Pakemnya waktu itu seperti merasa kalau pulang dengan keadaan sadar itu gak asyik.
parah kan? padahal kita masih anak sekolah.

***
Mengawali cerita disuatu pagi yang sangat begitu sibuk, orang-orang sudah bersiap untuk beraktivitas. dengan seragam sekolah lengkap, gue berjalan kaki menuju jalan raya dengan langkah tanpa semangat. gue masih berasa ngantuk sebenernya karena abis begadang semalem. Sebelum sampai ditempat, tepat di depan rumah juna gue teriak manggil-manggil juna, tapi gak ada sahutan. Mungkin dia udah berangkat duluan atau gue yang telat berangkat. Kayaknya sih gue yang telat.

Sampai dijalan raya seperti biasa sudah ada beberapa teman gue dan si juna juga ada disana berkumpul di tempat pemberhentian mobil angkutan. Sekolah gue memang lumayan jauh, jaraknya sekitar 5 KM. jadi pulang-pergi sekolah itu harus naik mobil angkutan. Dan disetiap pagi, untuk bisa naik mobil itu harus berebut cepat sama para karyawan-karyawan pabrik dan lainnya. kadang para sopir suka cuek sama anak sekolah, mereka lebih pentingin para karyawan. Mungkin karena ongkos anak sekolah gak seberapa. Iya, dulu gue cuma bayar 500 perak untuk sekali naik angkutan. Jelaslah kalau begitu, dari segi keuntungan pak sopir pasti pilih karyawan, makanya anak sekolah kalau waktu pagi mereka cuekin.

Dari jam 7 pagi mobil-mobil yang lewat selalu penuh sesak. Cuma ada space buat satu atau dua orang. Satu per satu teman-teman lain pergi naik angkutan dan lambat laun, tinggal gue dan si juna saja yang masih disini.

juna: "udah hampir jam 8, berangkat juga pasti masuk telat, kita bolos aja" terdengar suara juna yang berbaur dengan suara kendaraan dijalan

gue: "bolos? Kalo bolos gue kemana? Balik kerumah sama aja gue bunuh diri"

juna: "kerumah gue aja, rumah gue sepi. Orang rumah lagi pada gak ada"

gue: "ohh pantesan tadi gue teriak-teriak gak ada yang nyahut, oke sipp"
kata gue tanpa pikir panjang langsung setuju aja sama juna, lagian gue juga lagi males berangkat sekolah. Mata masih berat, masih berasa ngantuk, belum puas dan pengen tidur lagi.



Setelah setuju untuk bolos sekolah hari ini, gue dan juna beranjak dari tempat duduk dan berjalan pulang menuju kerumah juna.

Juna: "duit lu yang buat ongkos mana?"

Gue: "buat apaan?"

Juna: "gabungin sama duit gue, buat beli rokok dan makanan"

Gue: "cuma 2 rebu bakal cukup emang?"

Juna: "ya elu tambahin berapa kek, sisanya gue yang nambah"

Gue: "oke oke"
Tangan gue langsung masuk saku, ngambil duit dan gue kasih ke juna 3000. Juna langsung mengambil lalu memasukan ke sakunya.

Beberapa saat kemudian sampailah ke rumah juna. gue masih berdiri sementara juna membuka sepatu dan langsung naik kursi. tanganya masuk meraba-raba kusen diatas pintu. Ternyata juna mengambil kunci, lalu membukakan kunci pintu.

Juna: "kalo mau masuk, masuk aja duluan. Gue mau ke warung dulu"

Gue: "oke, yaudah sana ke warung"
Juna pun pergi, dan gue gak langsung masuk. Gue duduk dulu di kursi depan rumah, sambil menunggu juna datang gue melepas sepatu. Selang beberapa menit juna datang dengan membawa kantong plastik hitam ditangan.

Gue: "Lu beli apaan?"

Juna: "rokok, makanan sama susu coklat sachet"
Sambil ngeloyor masuk rumah juna mengajak gue masuk juga, kemudian dia mencabut kunci dan menutup pintu kembali. Gue simpen tas dan langsung duduk di sofa, sementara juna menyimpan kantong plastik di meja lalu membukanya dan mengambil 2 susu sachet dan langsung menuju dapur.

Gue: "bawa korek api jun" teriak gue ke juna

Juna: "iye" jawab juna
Gak lama juna pun datang membawa 2 gelas susu coklat dan menyimpannya dimeja. Lalu mengeluarkan korek dan melemparnya ke gue. Gue sobek plastik bungkus rokok yang masih utuh, membukanya dan mengambil satu batang rokok, gue bakar dan menghisapnya.

Gue: "orang rumah pada kemana emang?" Tanya gue ke juna

Juna: "katanya ada acara ditempat saudara, paling mereka pulang nanti sore"

Gue: "berarti kita aman sampai siang disini?" tanya gue

Juna: "pasti lah, makanya gue ajak kesini" jawab juna sambil mengambil rokok dan membakarnya.

Susana rumah memang bener-bener sepi, gak cuma rumah sih. Keadaan di kampung gue emang selalu sepi kalau pagi sampai siang hari. Ya paling cuma ada ibu-ibu doank yang emang gak punya aktivitas selain mengurus rumah.

Juna: "Lu mau nonton film gak?" tanya juna memecah keheningan

Gue: "film apaan?" tanya gue

Juna: "bentar-bentar" jawab juna yang langsung berdiri, berjalan menuju salah satu kamar, yang gue tau sih itu kamar abangnya. Kemudian keluar dengan membawa dua keping Disc VCD.

Juna: "ini" kata juna sambil nunjukin disc itu ke gue.

Anjirr, gue kaget banget waktu itu, juna ngasih disc yang gambarnya orang lagi ngesex. Buat gue sih ini pertama kalinya ngeliat cover disc dengan gambar porno.

Gue: "Lu dapet film porno gini darimana?" tanya gue ke juna penasaran

Juna: "bukan punya gue, entah kapan lupa. gue disuruh ngambil gunting sama abang gue di lacinya. dan gue malah nemu disc ini, kayaknya abang gue lupa kalo ada yang beginian di lacinya. gue juga penasaran belum nonton, kan baru sekarang ada kesempatannya" ucap juna panjang lebar.

Gue cuma angguk-angguk denger juna ngomong sambil ngebolak-balik ngeliatin gambar di disc itu. Tiba-tiba juna merebut disc itu dari tangan gue.

Juna: "sini discnya, mau gue play" kata juna
Dari tempat gue duduk di sofa, gue ngeliatin juna yang berjalan menuju rak TV dan mulai menyalakan TV dan VCD. Lalu memasukan disc dan tulisan berbahasa inggris mulai tampil di layar TV. Jantung gue tiba-tiba berasa berdetak begitu kencang. Mungkin karena rasa penasaran atau excited atau apa gue gak tau. Yang gue tau, ini adalah pertama kalinya gue menonton film porno, itu saja.

Dari layar TV, scene demi scene terus berganti, dari yang tadinya cewek cowok sedang ngobrol, kemudian mereka berciuman, satu per satu melepas baju sampai mereka berdua telanjang di atas ranjang, adegan demi adegan terus saja berlanjut. sesekali gue melihat si juna yang duduk di samping gue, dia terlihat sangat begitu fokus nonton ke layar TV. lalu mata gue kembali menatap TV, adegannya makin menegangkan, Gambar diambil dengan sangat close up dan itu bikin gue jadi makin gak bisa diem. Gue ngerasa celana gue jadi sesak, mau atur posisi tapi gue malu sama si juna.


You Might Also Like

Comments
0 Comments

0 comments

BERI KOMENTAR