"Rada depan dikit bisa kali berhentinya" ucap gue
"gerbangnya ini ko" sahut arya
"iya tapi ini genangan air ya, gimana gue turun? bisa basah semua sepatu gue" jawab gue
"Ahaha, sorry sorry brother" ucap arya sambil terkekeh
Kemudian arya memajukan motor menjauhkan dari genangan air didepan gerbang kostnya akibat hujan yang turun barusan. Gue pun turun dari motor dan arya membelokan motor lalu masuk ke gerbang kostnya diikuti gue yang berjalan kaki menyusul arya.
Sesampainya didepan pintu kostnya arya, gue masih berdiri menunggu arya untuk membukakan pintu. lalu aryapun mengambil kunci disakunya dan membuka pintu sambil menyuruh gue buat langsung masuk. Setelah gue masuk, gue melihat arya pergi ke ruang belakang dan tak lama kemudian arya kembali sambil membawa handuk warna biru.
"Lap rambut elu tuh, sekalian ganti baju" sembari arya melempar handuk ke gue.
"Baju dari mana? Emang gue bawa salin apa?" Tanya gue
"Ya pake baju gue lah, cepetan." Timpal arya sambil membuka baju dan celana yang di pakainya
"Lah, lu yang nyuruh gue ganti baju kenapa lu yang buka baju sama celana sendiri?" Canda gue ke arya
"Lu kira gue ga basah apa?" Jawab arya
"Iye iye, canda kali bos" sahut gue
Seperti sudah tak ada rasa canggung lagi, arya telanjang didepan gue sambil berjalan menuju lemari pakaian di pojok ruangan.
"Ughh, lu kok jadi makin sexy ya sekarang?" Ucap gue sambil terus melihat bentuk tubuh arya yang bisa dibilang oke lah, meski ga sixpack tapi sangat padat dan berisi.
"Gak usah liatin gue napa sih" jawab arya sambil lemparin kaos warna putih dan kolor pendek warna coklat tua.
"Ya abis gimana donk, terakhir gue liat tubuh lu itu beberapa tahun lalu dan belum se sexy kaya sekarang loh" jawab gue, sambil mengenakan kolor yang tadi dilempar arya
"Terus lu sange, gitu?" Tanya arya ketus
"Hahaha, iya donk" jawab gue sambil tertawa
"Gue tonjok lu ya" arya mengepalkan tangan
"Lah, jangan donk. Mending cium sini" ucap gue
"Huh! Dasar telek" sahut arya.
Setelah gue dan arya ganti baju, terlihat arya seperti sedang bingung. Dia sesaat liat jam di tangan nya, terus menuju ke luar. Lalu balik lagi masuk. Belum juga gue bertanya, tiba-tiba arya ngomong
"Gawat nih, gue lupa beli air galon" sambil arya mengambil galon kosong diatas dispenser
"Ya beli lah, motor masih diluar ko" jawab gue
"Bukan itu masalahnya, tau sendiri tadi waktu perjalanan kesini. Udah sepi kan, toko udah pada tutup, mau beli dimana coba?" Timpal arya
Emang iya sih, sepanjang perjalanan dari gang yang menuju ke tempat arya sudah sangat sepi, gak ada satu pun toko yang masih buka. Karena memang sudah agak malem, gue cek jam di hp pun sudak nunjukin pukul 22:45
"Terus gimna donk?" Tanya gue ke arya
"Ya kita gak minum" jawab arya sambil cengengesan
"Ahh goblok, gimana kita mau makan kalau ga ada buat minum" sahut gue rada kesel
"Tapi tenang, ada si teteh tetangga kost" ucap arya
Kemudian arya keluar dan ketuk-ketuk pintu tetangga kostnya sambil memanggil, tak lama kedengeran suara cewek ngobrol dengan arya seperti sudah sangat akrab, selang beberapa saat arya kembali dengan membawa satu teko air dengan beberapa kue di piring yang disimpan di atas baki plastik. Arya lalu menyimpan baki di atas lantai keramik kostnya dan kemudian beranjak mengambil bungkusan plastik di dekat pintu.
"Ya udah makan dulu lah, kan tadi lu laper katanya" ucap arya
Tanpa lama-lama gue langsung ambil kotak paket nasi dan ayam bakar, sambil ngobrol bercerita kabar masing-masing selama gak bertemu, gue dan arya bersantap makan. Sampai makan sudah selesai, rokok sudah habis berbatang-batang gue dan arya masih terus bertukar cerita, dan tak terasa malampun sudah semakin larut.
"Lu mau tidur kapan?" Tanya arya memotong percakapan
"Tergantung aja gue sih" jawab gue
"Tergantung gimana?" Tanya arya lagi
"Tergantung lu aja mau ditidurin nya kapan" sahut gue
"Ahh dasar omes lu" ucap arya sambil kemudian berdiri lalu berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam
"Lu itu kebiasaan ya" kata gue
"Kebiasaan apa?" Tanya arya
"Kagak pernah pake CD kalo dikost-an" jawab gue
"Haha, lagian lu teliti amat dah" sahut arya sambil mendekat ke arah gue yang lagi berbaring diatas kasur
"Ya abis itu keliatan banget gelantungan pas lu jalan" ucap gue, yang memang saat itu arya hanya bertelanjang dada dan cuma pakai kolor warna putih berbahan tipis
Arya kemudian menjatuhkan tubuhnya dikasur, lalu tangannya mengambil handphone yang sedang di charge, kemudian berbaring tubuhnya menghadap langit-langit kost arya yang lumayan sempit. Gue yang tadinya lagi baring langsung bangun duduk bersila deket arya, memandang wajah arya yang boleh dibilang tampan tapi gak tampan-tampan amat, cuma emang gue akui pesonanya itu bikin arrghhh, wajahnya seperti ada manis-manisnya gitu.
Sementara orang yang gue pandangi itu lagi asyik mainin hp, kedua tangannya sibuk ngotak-ngatik layar hp. Sedangkan saat ini, mata gue mulai liar menatap seluruh bagian bagian tubuh arya. Tak hanya mata, tangan pun sudah mulai ikut berpatroli. Gue sentuh bagian dada arya, mengusap pelan bagian puting dengan jari. Tak ada reaksi dari arya, dia masih asyik dengan handphonenya.
Mendapati arya yang diam tak bereaksi, tangan gue pun mulai makin nakal. Kini, pelan tapi pasti gue mulai mengelus tubuh arya dari leher sampai perut. Gue merasakan begitu halusnya tubuh arya, sampai akhirnya gue bener-bener merasakan nafsu gue yang semakin meninggi. Tanpa sadar, lidah gue mulai menjilati bagian dada arya, melumat putingnya dan perlahan turun ke perut lalu kembali naik.
Dalam keheningan dan hanya terdengar suara suara binatang malam dari luar, saat lidah ini masih terus mincicipi setiap lekukan tubuh arya, gue mendengar suara lenguhan kecil dari mulut arya, tak lama setelah itu. Arya tiba-tiba menyimpan handphone-nya dan tangan kirinya mulai memegang rambut kepala gue.
Sejenak gue berhenti dari aktivitas yang sedang membakar darah kelelakian ini, gue menatap kembali wajah arya beberapa saat, lalu gue menyimpulkan senyum ke arya. Tanpa diduga tangan arya yang sedang memegang rambut kepala gue, ditarik secepatnya lalu disambar oleh ciuman basah dari bibir arya yang tepat mendarat di bibir gue. Gigitan hangat bibir arya seolah menghipnotis kesadaran gue saat itu, akhirnya kitapun bercumbu dalam keadaan tubuh menindih arya dan tangan arya memeluk erat.
Puas bercumbu, tangan arya mulai bergerak berusaha melepas celana yang gue pakai, gue pun memberi kesempatan pada arya untuk melancarkan aksinya, kini gue dan arya sudah sama-sama tanpa pakaian, satu sama lain sudah telanjang. arya mulai menggeser tubuh nya kabawah, sementara bibirnya mulai mencium bagian tubuh gue senti demi senti sampai akhirnya bibir arya kini tepat berada dibawah perut. Gue yang seperti tidak berdaya dengan permainan arya hanya bisa menikmati saja sambil sesekali mendesah kecil dengan kedua tangan bertumpu pada kasur. Menahan agar tidak terjatuh menindih arya demi menikmati setiap lumatan lidah arya dan ciuman dari bibirnya.
Dengan mata terpejam, masih menikmati permainan hangatnya lidah arya yang menjilati seluruh tubuh, Tak berselang lama, gue mulai merasakan ada sesuatu yang hangat dan terasa basah di batang kejantanan yang memang sedang dalam keadaan keras dan tegang. Gue semakin terbuai dan tak kuasa melawan kenikmatan tiada tara yang telah menerjang ini. Hanya desah dengan mata terpejam yang bisa gue lakukan. Sampai waktu terus berlalu, kini hanya suasana malam dengan keheningan yang bisa menyaksikan apa yang selanjutnya terjadi antara gue dan arya saat itu.
***
