Juna Bukanlah Arjuna - Part 5

Mei juni juli agustus sepetember. waah ternyata sudah hampir 5 bulan yaa aku gak update blog. 
hahh? apa tadi, aku?
iya. aku, kenapa?
nggak, nggak apa-apa sih.
terus kenapa kaya kaget gitu?
hmm, berasa lucu aja gitu bacanya kalau pake kata aku, biasanya kan pake gue gitu.
oh itu, sengaja sih gue ehh aku cuma mau belajar nulis dengan EYD aja. 
wuihh, tumben amat mau belajar bener, ada apa nih? 
banyak nanya amat lu daritadi, baru juga mau nulis padahal. mending duduk yang manis gih, simak aja tulisan gue. nah tuh kan lupa, aku maksudnya.
iyadeh iya, emang mau nulis apa sih kak? 
ehh diem lu nyet, sekali lagi tanya gue sumpel mulut lu pake batang kejantanan, mau lu? arghh mauuu, mau banget kak, ayo donk sumpel aku, sumpel sekarang aja kak!! 
dieem nyet dieemm, gue gampar pake laptop tau rasa lu.
jangan kakak, nanti aku sakit.
yaudah diem makanya.
iya kak aku diem deh, silahkan lanjut nulisnya.
oke, sampe mana tadi?
belum sampe mana-mana kak, kakak baru mau nulis kan tadi? 
oh iya ya. . 

Jadi aku kemana selama hampir 5 bulan gak update blog? gak perlu tau lah yaa, gak penting juga aku ngasih tau. cuma kebetulan malam ini aku lagi santai sesantai-santainya makanya bisa ngeblog. niatnya sih mau ngelanjutin cerita si juna, masih banyak bagian yang belum aku tulis soalnya. udah cukup ah basa basi busuknya, mending langsung aja nulis lanjutan ke "JUNA BUKANLAH ARJUNA - PART 5"

*****

Riuh kicau burung yang bersahutan membangunkanku dari tidur, saat aku buka mata hanya ada abenk dan radit yang masih tidur disampingku. kemudian aku keluar tenda, tapi tak terlihat fendi, ryan dan juna. Yang terlihat hanya asap dari tungku yang tak jauh dari tenda.

Semilir angin pagi berhembus seakan menyapa ketika pertama kali aku keluar dari tenda, hangat cahaya matahari seketika langsung menerpa wajah tapi sinarnya tak begitu menyilaukan mata. Terlihat titik titik air embun berkilauan dari daun-daun dan rerumputan. Dingin tapi begitu terasa menyegarkan suasana pagi dihutan ini.

Puas menghirup segarnya udara, aku beranjak kembali ke tenda untuk mengambil pasta gigi kemudian bergegas menuju ke dekat sungai hanya sekedar untuk cuci muka dan gosok gigi. 

"udah bangun lu jazz" terdengar suara ryan dari belakang

"eh iya, baru aja barusan" jawabku

"kalian habis dari mana?" sambungku

"ngambil air dari sana buat masak air sama sarapan nanti" jawab ryan

"ouh, pantesan tadi gak ada siapa-siapa diluar" sahutku

Kemudian mereka bertiga berlalu menuju ke dekat tenda, selesai cuci muka aku mendekati mereka yang terlihat sibuk, fendi dan juna sibuk menyalakan kembali api di tungku yang sempat padam. Akupun mulai membantu memilihkan ranting-ranting kayu yang agak kering, karna hampir sebagian kayu-kayu bakar itu basah karena embun.

Selang beberapa saat, air mulai mendidih dan masing-masing dari kita sudah menyiapkan gelas untuk menyeduh kopi, dan akhirnya kita berempat menikmati pagi dengan nikmatnya segelas kopi.

Hari sudah mulai menuju siang, saat aku lagi santai ditepi sungai, setengah teriak ryan memanggilku.

"jazz, mau ikut ga?" 

"kemana?" sahutku

"keatas, ke air terjun kedua. Gue sama juna mau kesana" jawab ryan

Buru-buru aku samperin ryan dan kembali bertanya

"emang masih ada ya?" Tanyaku

"ada, ada tiga air terjun di hutan ini, cuma yang paling tinggi yang disini" jawab ryan

"terus yang diatas?" tanyaku penasaran

"gak terlalu tinggi, cuma pemandanganya lebih asyik" kata ryan

"Oh yaudah ayo, berangkat" jawabku penuh semangat sambil langsung menuju tenda untuk mengambil kamera

Aku, juna dan ryan pun pergi sementara teman yang lain menunggui tenda. Ternyata untuk Jalan ke air terjun kedua lumayan butuh usaha, selain rimbun dengan rumput liar, kondisinya juga lumayan curam. Tapi untunglah banyak pohon-pohon kecil untuk berpegangan. Semakin jauh keatas, suasananya malah semakin sunyi. Cuma terdengar suara air disungai yang meskipun kecil tapi sangat deras. Sesekali suara-suara binatang lain juga terdengar. 

"masih jauh gak yan?" tanyaku ke ryan

"bentar lagi kok" jawab ryan

"gue udah capek ini" sahutku

"emang lu doank yang capek, gue juga capek" tiba-tiba juna menimpali omonganku

"istirahat dulu bentar gimana yan" ucapku

"nanggung, bentar lagi juga nyampe" jawab ryan

Dan ternyata omongan ryan bener, air terjun yang dituju beberapa ratus meter sudah mulai terlihat. Tak lama sampailah kita ketujuan. Kondisi disini lebih rimbun, air terjun nya gak begitu tinggi, dan air disekitarnya juga cukup tenang. 

    source image: google

"wahh, kalau berenang seger nih" kata juna setibanya disana

"tapi bentaran ahh, masih capek" lanjut juna ngomong sendiri

Sementara aku dan ryan langsung terbaring di rerumputan merasakan lelah. Kemudian juna duduk disampingku tetapi matanya masih menatap ke arah air terjun itu seperti tak sabar untuk segera menceburkan diri ke air.

Setelah rasa lelah mulai berkurang, aku kembali duduk dan mengambil kamera dari tas. Aku angkat kamera dan mulai mengarahkan mata lensa untuk mengambil beberapa view di sekitar air terjun. Kemudian aku bergerak, mulai mencari angel yang aku rasa pas untuk di photo. Tanpa disadari, aku sudah di tengah sungai dan berjongkok di atas bebatuan. Ahh, andai saja waktu itu sudah punya DSLR mungkin aku bisa memainkan shutter speed, supaya mendapatkan photo panning dari air terjun dan aliran sungai yang indah ini.

Sedang asik mengarahkan kamera, tiba-tiba juna menceburkan diri ke air disusul ryan. Mereka berenang dengan hanya memakai celana dalam saja.Karena kedua orang itu sudah menggangu object yang akan aku photo, akhirnya aku hanya duduk diatas batu dan melihat mereka berenang yang sepertinya begitu asyik menikmati kesegaran airnya. 

Tapi ada sesuatu yang aneh mulai aku rasakan, aku merasa begitu menikmati pemandangan 2 orang didepanku. Terlebih juna, mataku seperti tertarik untuk fokus melihat keindahan tubuh juna. Dalam keadaan basah seperti itu, juna terlihat sangat sexy.

Aku sadar, ini sungguh tak wajar. Tapi semakin aku ingin menolaknya aku malah seperti tak ingin untuk melewatkan menikmati keindahan tubuh juna didepanku. Imajinasiku semakin tak normal, tanpa sadar isi dalam celana mulai sesak. Aku begitu terangsang dengan keindahan tubuh juna.

Tiba-tiba percikan air menciprat kewajahku, sontak aku kaget dan air yang kena kewajahku membuyarkan khayalan tak normalku saat itu. 

"kenapa lu jazz, gue panggil-panggil malah bengong aja" ucap ryan padaku yang sudah berdiri didekatku

"emhh, ngga-ngga. Kenapa emang?" tanyaku ke ryan 

"gue minta fotoin, malah diem aja elunya" jawab ryan

"ouh, sorry-sorry. Mau foto dimana lu?" tanyaku

"disana aja, dibawah air terjunnya" kata ryan

"oke oke" ucapku menyanggupi

Kemudian ryan kembali ke dekat air terjun dan Aku mulai mengarahkan lensa kameraku, ke ryan. Tapi ternyata ryan terlihat sangat kecil.

"yahh, kejauhan yan. Lu jadi kecil disini" teriak gue ke ryan

"terus gimana donk? Mending lu buka celana aja jazz, lu ketengah sini" sahut ryan

Jritt, sialan nih. Masa harus buka celana, sementara juniorku masih tegang didalem celana Pikirku saat itu.

"buruan oyy, lama dah" teriak ryan lagi

"bentar-bentar, jun mending lu aja yang fotoin dah. gue males masuk airnya" kelakarku saat itu

"lah kan gue udah basah jazz, ntar kameranya basah juga donk" jawab juna

"udah mending lu aja, sekalian gue juga pengen di photo" lanjut juna lagi

Akhirnya aku harus mengalah, aku pun membuka celana dan turun ke air berjalan mendekat kearah mereka. Kedalaman air sungai sudah sampai sepaha, lalu aku mulai coba mengarahkan kembali kamera. Dan syukurlah, posisinya sudah lumayan.

"oke siap, hitungan sampe 3 ya" ucapku ke mereka dan aku pun berhitung dan memotret mereka berdua dan disaat akan mengambil photo berikutnya, tiba-tiba juna menahanku. Lalu juna melepas CD nya dan menutupi juniornya dengan kedua tangan. Ahh Anjirr, ini apaan si juna? Pake acara bugil segala bikin nafsuku naik aja.
Ucapku dalam hati

Dengan pose memasang senyuman manis, dari tubuh sexy dan tangan yang menutupi bagian juniornya, juna kembali berhasil membuatku terperangah, seperti tak berdaya, juniorku kembali menegang. Sambil berhitung aku fokusin kamera ketubuh juna, cekrek!! Selesai memfoto aku buru-buru untuk kembali ketepi sungai. Aku kembali duduk tanpa memakai kembali celana dalamku.

Kali ini aku disuguhi pemandangan yang lebih indah dari sebelumnya, meskipun aku sudah pernah melihat juna telanjang, tapi sepertinya aku tak pernah bosan melihatnya.

You Might Also Like

Comments
0 Comments

0 comments

BERI KOMENTAR