Seperti
tak ingin ada spot-spot menarik dan indah yang terlewatkan, Aku dan
temen-temen kembali berkeliling menikmati suasana hutan untuk yang
terakhir, menghabiskan beberapa film yang tersisa di roll camera untuk
berphoto-photo. Lalu tibalah waktunya untuk mulai melakukan perjalanan
pulang, seperti biasa kita mengawalinya dengan doa bersama. Agar lancar
dan dimudahkan segalanya, dan kita semua melangkah berjalan meninggalkan
hutan. Sesampainya dijalan raya, hari sudah mulai sore. Seperti saat
berangkat, pulang pun kita akan menumpang kendaraan yang searah tujuan.
Tapi jalan disini sangat sepi, kendaraan yang lewat masih bisa dihitung
jari. Itupun kadang selalu terisi dengan muatan, alhasil sampe lewat
magrib kita masih menanti mobil dipinggir jalan.
![]() |
| source image: google |
"jadi
sekarang gimana? Sudah berapa jam kita disini? Yakin gak mau nunggu
sambil jalan kaki saja?" suara parau ryan memecah keheningan. Aku dan
teman-teman, kompak langsung menoleh ke arah ryan.
"terserah sih, gue ngikut aja" timpal abenk ke ryan
"kalian gimana?" lanjut ryan bertanya
"Yaudah, jalan aja" jawab juna. diikuti aku, radit dan fendi yang mengangguk setuju.
Akhirnya, kita menunggu mobil yang lewat sambil berjalan kaki. Sudah sangat jauh berjalan, kita memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah warung. Ryan langsung memesan 3 gelas kopi dan mengambil beberapa bungkus makanan di meja. Sedang kita semua menikmati kopi, ada mobil pickup berhenti tepat didepan warung dan salah satu orang keluar dari mobil langsung menuju warung.
"nah, kebetulan banget nih ada mobil kosong, ayo siap-siap" seru ryan sambil langsung berlalu ke arah sang sopir, mungkin dia mau ngomong minta izin buat numpang, dan ternyata bener ryan langsung mengajak kita semua naik ke bak mobil. Sekembalinya sibapak yang ke warung, mobil pun langsung melaju.
Rasa lelah akibat berjalan kaki tadi, kita bayar dengan langsung tepar dibak mobil dengan memakai tas masing-masing sebagai bantalnya. Tak lama, juna, abenk, dan radit sudah tak sadarkan diri. Mereka langsung tertidur. Cuma aku dan fendy meski tiduran tapi mata masih terjaga, sementara ryan masih saja duduk, terlihat dia sedang sibuk buka-buka dompet dan memeriksa saku-saku di celana dan jaketnya.
"Ada apa yan?" tanyaku penasaran
"ngga, cuma lagi bingung aja" jawab ryan sambil terus tangannya sibuk
"iya bingung kenapa?" aku beranjak dari posisi tidurku
"duit cuma sisa 8 ribu nih, rokok juga tinggal 7 batang lagi. Mana perjalanan masih jauh" jawab ryan diiringi dengan hela nafas panjang. Dan aku tak menjawab, sejenak aku terdiam tapi aku memahaminya.
Aku menoleh fendi sesaat dan kembali keposisiku tiduran seperti semula. Aku topang kepalaku dengan kedua tangan, mataku menatap keatas langit yang dihiasi taburan bintang, bulan seperti terus mengikuti kemana arah mobil berjalan. Dari jalanan yang tadinya sangat sepi, sekarang mulai terasa ramai. Ternyata mobil sudah masuk ke jalan provinsi. Lalu sampailah dilampu merah. tapi sayang, mobil yang kita tumpangi arahnya lurus, dengan sangat terpaksa kita pun harus turun karena berbeda arah. Refleks ryan langsung berdiri dan meminta pak supir untuk berhenti, sementara aku dan fendy sibuk membangunkan radit, juna dan abenk yang lagi tidur.
"Duit cuma sisa 8 ribu, mau diapain?" ryan memperlihatkan isi dompetnya
"kalau masih ada rokok, beli makanan aja yan" ucap abeng sambil menguap
"rokok tinggal sisa 7 batang" ryan mengeluarkan bungkus rokok dan korek dari sakunya
"Yaudah, aman" jawab juna.
"oke, kalian nyebrang duluan, gue mau beli makanan. Temenin gue fen" ryan menarik baju fendi kemudian pergi. Sementara aku dan yang lain langsung menyebrang jalan dilampu merah.
Tak lama, ryan dan fendi datang dengan membawa bungkus plastik berisi gorengan. Istirahat sejenak mengisi perut yang lapar dengan gorengan. setelahnya, kita kembali melanjutkan untuk menghentikan mobil. Berkali-kali mencoba tapi selalu gagal, mobil yang lewat hampir selalu dengan kecepatan tinggi. Mulai putus asa dan kehilangan semangat, tetapi ryan terus memaksa agar perjalanan segera dilanjutkan.
Melihat kondisi radit dan abenk yang seperti sangat mengantuk, juna pun menolak keinginan ryan yang bersikukuh untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tapi ryan mengabaikan keinginan juna tersebut. Akhirnya kita terpecah menjadi 2 kubu, ryan, aku dan fendi di kubu untuk lanjut, sementara juna, radit dan abeng dikubu untuk istirahat. Kesolidan diantara kita hancur, komukasi terhenti, Kita semua saling diam tak bicara.
Mobil selanjutnya pun datang, ryan aku dan fendi masuk ketengah jalan dengan sangat nekad, akhirnya mobil mau berhenti. Kita bertiga naik, tapi juna, radit dan abenk tetap saja duduk tanpa memperdulikan sampai mobil mulai berjalan cuma ada aku, ryan dan fendi yang dimobil. Sudah beberapa ratus meter jauh mobil meninggalkan juna, radit dan abeng. Kemudian ryan meminta berhenti ke supir, aku dan fendi meloncat disusul ryan. Setelah turun, ryan mengajak aku dan fendi kembali ketempat awal dimana juna, radit dan abeng ditinggal.
"Kalian tolol, sudah tau mobil susah dihentikan, kenapa gak naik?" bentak ryan penuh emosi ke juna, radit dan abenk
"anjink, gue ngantuk!" abenk berdiri dan melemparkan tas ke arah ryan
Melihat ryan dan abenk yang sudah penuh emosi, aku dan fendi mencoba menahan ryan, akupun menyuruh juna menahan abenk agar tak terjadi perkelahian. Beruntung keduanya masih bisa ditahan. Dan juna masih bisa diajak kompromi, juna akhirnya mau untuk melanjutkan perjalanan, kita berempat sepakat membebaskan abenk dan radit dari segala aktivitas, bahkan saat dapat mobil pun kita berempat prioritaskan abenk dan radit yang sudah sangat lemah untuk menaiki kendaraan terlebih dahulu.
Walau sudah kembali menaiki kendaraan bak terbuka, tapi suasana masih belum mencair, cuma aku dan juna yang terlibat obrolan, yang lain semuanya terdiam. seperti masih menyimpan kekesalan masing-masing. Sampai mobil kembali berhenti dan kita semua turun, abenk dan radit langsung menuju ke emperan toko, disusul aku dan juna kemudian ryan dan fendi mengikuti dari belakang. Aku dan mereka langsung menjatuhkan badan. kecuali juna, dia hanya duduk didekatku. Kali ini memang harus istirahat, sudah sangat lelah terasa, hanya dengan sekejap mereka semua langsung terlelap. meski diemperan toko, ryan radit, abenk dan fendi tidur begitu nyenyaknya. Aku juga merasakan ngantuk dan capek, tapi sangat susah untuk bisa memejamkan mata. akhirnya aku menemani juna yang masih duduk bersandar ke rolling door toko.
Sudah lewat tengah malam, suasana disini begitu sepi, hanya terlihat api-api kecil dengan asap dari pembakaran di tong sampah di seberang jalan. tak ada mobil yang lewat satu pun, yang ada hanya hembusan-hembusan angin malam yang semakin membuat dingin tubuh ini.
Suara langkah cepat dan keras dari sepatu berhak, mengalihkan perhatianku. Dari penerangan lampu jalan terlihat dua sosok berambut panjang sambil mengobrol, berjalan semakin mendekat kearahku.
"ehh hey, ini kok pada tidur dipinggir jalan?" dengan suara agak bindeng salah satu dari dua orang itu menyapa aku dan juna yang kebetulan masih melek.
Sial, ternyata mereka waria. Aku yang tadinya sedang duduk langsung pura-pura tidur, aku menundukan kepalaku kelutut. Dengan sesekali mencoba mengintip mereka. Sumpah, aku takut sebenarnya akan keberadaan mereka didekatku saat itu.
"iya nih mas" tiba-tiba juna malah menjawabnya.
"heh, ganteng-ganteng suka rumpi yey, masa cantik begini dibilang mas" jawab orang itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulut yang dibalut bibir berwarna merah merekah
"udah yuk, pulang ah" ucap satu orang lagi
Lalu aku kembali membuka mataku setelah mereka pergi, Belum jauh 2 waria itu berjalan, tiba-tiba juna malah teriak memanggil waria itu. Kemudian dia berdiri dan lari menyusulnya. Dari kejauhan, terlihat juna mengobrol, lalu tangan juna mengarahkan tangannya menunjuk padaku. waria itu menolehku.
"jazz, sini" juna memanggilku
Kaget setengah mati, apa maksud si juna malah menanggilku, Sudah tau aku takut dengan mereka. aku tetap mendiamkan juna yang memanggilku. Aku hanya mengamati mereka dari kejauhan. Kembali kulihat, sekarang tangan waria itu seperti memegang kearah bagian kelamin si juna. setelah itu si waria seperti memberi sesuatu ke juna. Lalu mereka pergi dan juna kembali sambil senyum-senyum.
"bego, gue panggil malah diem aja lu" juna kembali duduk dengan tangannya mentoyor kepalaku.
"elu yang bego, ngapain manggil-manggil gue segala?" tanyaku kesal
"ngga, tadi itu gue minta rokok. Gue mintain buat elu juga tapi dia gak mau ngasih. Malah suruh elunya yang ngambil sendiri" jawab juna
"ya kan lu tau sendiri, gue takut sama yang begituan" timpalku
"lagian apa yang harus ditakutin, sama-sama manusia juga kan?" juna mulai menyalakan rokoknya
"asal lu gak rese, ya mereka juga gak bakal rese kali jazz" fyuhhh, asap tebal keluar dari mulut juna.
"terus, tadi kaya keliatan ada ngeraba-raba kelamin lu. Itu ngapain?" tanyaku penasaran
"Dia becanda, kan gue minta rokok. Malah dianya bilang rokok kamu yang ini pasti gede. gitu dia bilang" jawab juna
"ouh, yaudah sini gue nyoba rokoknya" Akupun mendekat ke juna
"Rokok yang mana nih?" juna menatapku
"inilah, masa yang itu" tanganku mengambil batang rokok yang dijapit jari tangan juna
"hahaa, kirain yang ini" juna menunjuk
"taik lu" jawabku, dan mulai menghisap rokok yang baru aku ambil dari tangan juna
Akhirnya aku dan juna bergantian menghisap sebatang rokok pemberian dari waria itu sampai habis. Sampai waktu menjelang hampir jam 3, terlihat dari jam digital yang dipakai juna. Ryan dan temen yang lain pun bangun dari tidurnya, karena suasana disini sudah mulai ramai, tempat ini memang sepertinya pasar pagi. Dan kitapun melanjutkan perjalan dengan naik mobil yang habis mengantarkan sayuran. Sampai lewat subuh akhirnya kita sampai dengan selamat kembali kerumah.


