Satu persatu gue buka kancing dibaju seragam sekolah yang gue pakai, gue lepas baju dan menggantungkanya di gantungan yang menempel ditembok. lalu gue lepas juga celana dan hanya menyisakan celana dalam saja ditubuh.
juna: "CD loe ga dilepas?"
gue: "gak ah, malu gue kalau dilepas"
juna: "kayak loe punya kemaluan aja pake malu segala" juna ngejek gue
gue: "hahaa, goblog!" jawab gue sambil merebut gayung di tangan juna.
lalu gue mulai mengambil air di bak dan langsung menguyurkan ke muka, rambut dan tubuh. sementara juna masih bermain-main dengan busa sabun yang melekat di seluruh tubuhnya.
gue: "sini sabunnya jun, gue mau pake"
juna: " oh ya, ini" juna memberikan sabun itu ke gue. sambil menyabuni tubuh, gue bertanya ke juna.
gue: "jun, tadi itu sebenernya loe ngapain sih? gue jadi gak bisa lupa sama kejadian tadi"
juna; "anak tolol, ngapain juga loe ingetin? udah lupain kejadian tadi"
gue: "gak bisa jun, gue inget aja dengan ekpresi loe tadi sampe kejang-kejang begitu"
juna: "hahaha, efek samping dari rasa nikmat mungkin itu"
gue: "apaan yang nikmat?"
juna: "kagak. ehh loe serius belum pernah kaya gitu?"
gue: "ya belum pernah lah, liat aja baru tadi gue. batang loe juga ternyata gede yaa. hahaa"
juna: "hahaa, dasar loe. emang punya loe kecil ya? coba mana gue liat"
gue: "ahh apaan? malu lah goblog"
juna: "yaelah, emang gue siapa pake malu segala. mana gue liat?" paksa juna yang kemudian mendekat dan langsung menarik CD gue kebawah sampai melorot, karna gue lagi sabunin badan dan gue gak sempet buat menahan posisi CD. akhirnya junior gue pun menampakan diri.
juna: "mana, sama aja kan ukurannya?" dengan tangan memegang penisnya, juna menunujukan dan mendekatkan ke penis gue.
gue: "ya beda lah goblog, ini kan lagi gak bangun, gue liat nya tadi kan yang lagi bangun"
juna: "ouh yaudah, kita samakan pas lagi bangun aja" omong juna seolah menantang
gue: " ahh gila, gimana caranya coba?" tanya gue dengan polosnya karena memang gue belum pernah membuat penis gue dipaksa untuk bangun. yang gue tau, gue bisa ngeliat penis gue bangun kalau di pagi hari dan atau ada rangsangan dari penglihatan. maklum lah umur gue kan masih kecil. hahaa
juna: "loe inget-inget bokep yang tadi pagi kita tonton aja sambil dimainin kaya gini" ucap juna sambil memperlihatkan penisnya yang lagi dimainin tangannya sendiri. parahnya gue langsung ngikutin saran juna, sambil menyandarkan pantat ke bak mandi gue memainkan penis gue sambil membayangkan film bokep yang udah ditonton tadi, dan saran juna memang berhasil, junior gue mulai bangun dan hampir mengeras dan akhirnya berdiri kokoh tegak menantang.
juna kemudian mendekat sambil mengarahkan penisnya ke gue, dan tanpa gue duga juna menempelkan penisnya ke penis gue yang sama-sama sedang mengeras. penis gue dan juna kini berada dalam satu genggaman tangan. arrghh, gue seperti merasakan ada sensasi lain saat tangan juna menggenggam penis gue yang menempel dengan penisnya juna. pikiran gue hampir melayang merasakan gesekan-gesekan lembut antara penis gue dan juna. semakin terasa berbeda saat gue merasakan ada sentuhan tangan yang terasa hangat dipenis gue, disaat yang sama pula gue mencium wangi sabun dari tubuh juna yang hampir menempel dekat di hidung. entahlah, perasaan macam apa yang sedang gue nikmati saat itu. horny? mana gue tau! gue belum mengerti soal horny. lagi pula kita sama-sama cowok.
juna: "ahh cuma beda dikit doank ko" suara juna tiba-tiba langsung memecah fantasi yang sedang gue nikmati
gue: "tapi tetep gedean punya loe kan jun" jawab gue rada gugup karena juna masih menempelkan penisnya dengan penis gue didalam genggaman tangannya.
juna: "iya sih. tapi ini kenapa punya loe makin mengeras yaa?" tanya juna. sontak gue kaget tapi gue cuma bisa diem. gue bener-bener gak tau musti ngomong apa. lalu tangan gue mendorong tubuh juna sampai dia mundur dan gengagaman tangan juna pun terlepas dari penis gue.
gue: "udah ah gue mau lanjut mandi" dengan kondisi penis yang masih keras memanjang gue melanjutkan mandi, membersihkan sisa-sisa busa sabun yang ada ditubuh. sementara juna langsung mengambil handuk, mengelap seluruh badannya dan keluar kamar mandi duluan.
gue: "handuknya bawa sini lagi jun" teriak gue dari dalem
juna: "oh iya, gue lupa. nih" juna kembali dan melemparkan handuk dari luar pintu kamar mandi, kemudian dia pergi dengan telanjang menuju kamarnya.
selesai mandi gue langsung buru-buru ke halaman belakang rumah, membawa pakaian seragam gue yang basah buat dijemur beberapa saat. biar kalau nanti pulang kerumah bisa gue pake lagi seragamnya. lalu gue menuju kamar juna dan gue pinjem celana dia. setelah itu gue kembali ke ruang tamu duduk santai bareng juna yang sedang asyik menikmati sebatang rokok.
gue: "ehh ko rokoknya abis yaa?" tanya gue sambil liat bungkus rokok yang kosong
juna: "iya, ini yang terakhir"
gue: "loe sih, ngerokok udah kaya kereta. asap ngepul aja terus"
juna: "yaudah sih ini aja stengan bareng gue"
gue: "mana sini' sambil tangan gue mencabut batang rokok yang dijapit jari tangan juna.
Sebenernya ini adalah hal biasa yang sering gue dan juna lakukan kalau kita bener-bener lagi bokek, ada duit pas-pasan buat beli rokok satu batang, kita hisap gantian bareng-bareng sampai habis.
juna: "udah gantian, udah berapa isep loe dari tadi" tiba-tiba juna merebut rokok yang masih menempel dibibir gue
juna: "ahh anjink basah, ngapain loe gigit filternya sih?" tanya juna rada sewot, karena ujung filternya gue gigitin.
gue: "yaudah sini balikin rokoknya kalau gak mau basah"
juna: "setan loe, sengaja kan digigit rokoknya biar basah, biar loe enak sendiri"
gue: "hahaa, abis dari sebungkus gue cuma ngeroko 3 batang doank"
juna: "yaelah, itungan. cuma rokok doank, yaudah nih" tiba-tiba juna melumat-lumat busa filter rokok sampai basah dan menyodorkan rokok ke gue.
gue: "dih, ogah amat. udah dijilat-jilat gitu. loe makan aja sekalian puntungnya" jawab gue rada kesel
juna: "ahahaa, mampus loe. gue menang!"
gue: "taik loe!"
juna: "oh iya, ngomong soal makan, loe laper gak jazz?"
gue: "iya iya nih gue laper, tadi pagi cuma sarapan gorengan sama tadi makan roti yang loe beli"
juna: "yaudah, tahan aja ya kalau laper"
gue: "setan ya loe emang. gue kira tanya laper mau nawarin makan, taunya malah nyuruh ditahan. goblok!"
juna: "hahaha, eh tapi serius ko. kalau loe mau makan sana aja makan, cuma yaa didapur gak ada makanan"
gue: "kan loe tolol, percuma nawarin makan kalau gak ada makanan. apa yang mau dimakan coba"
juna: "loe masih ada duit gak?"
gue: "ada, tapi buat iuran mading. soalnya minggu depan giliran kelas gue yang pasang mading"
juna: "pake aja dulu duitnya. buat beli mie instant sama telor. gue juga laper sih ini"
gue: "terus ntar gue ganti darimana duitnya?"
juna: "gampang sih itu, loe kan paling jago soal tipu menipu ke orang tua. alesan aja lagi ada iuran lain"
gue: "bacot loe jun, kalau ngomong asal bunyi aja"
juna: "hahaa, udah cepet sini duitnya"
dengan sangat terpaksa gue nurut dengan ide kacau si juna, akhirnya gue kasih duit yang sebetulnya mau dibayarin iuran mading hari ini, tapi gak jadi karena gue bolos sekolah. setelah duit ditangan, tanpa lama juna langsung pergi dan secepat kilat dia udah balik lagi. juna langsung ke dapur, memasak mie sementara gue malah nonton tv. beberapa saat kemudian juna datang membawa dua mangkuk mie rebus dan kita langsung melahapnya dengan penuh semangat.
***
hari sudah menuju petang, jarum jam yang menempel di dinding tembok hampir menunjuk tepat di angka 2. waktu seakan menyuruh gue untuk segera pulang. akhirnya gue beranjak dari sofa bergegas ke halaman belakang untuk mengambil kembali seragam yang tadi gue jemur. sudah lumayan mengering dan gue pun balik ke ruang tamu langsung memakainya disana karena waktu itu gue cuma pakai kolor yang gue pinjem dari juna, sementara CD gue masukan ke tas. gue lalu keluar, kembali memakai sepatu dan akhirnya pamit ke juna untuk pulang.
sampai dirumah, gue langsung masuk kamar, melempar tas ke kasur dan langsung rebahan diatas kasur. telentang dengan mata memandang kosong ke langit-langit kamar. tiba-tiba bayangan juna melintas dipikiran gue, teringat kembali kejadian tadi pagi. kejadian yang baru pertama kali gue alami. menyaksikan antraksi seorang sahabat untuk memuaskan hasratnya sendiri. mendengar desis lirih suaranya, melihat maju mundur gerakan tangannya, sampai geliat hebat tubuhnya saat cairan kental putih menyembur keluar dari penisnya. entah, apa yang sebenarnya terjadi, gue semakin menikmati bayangan-bayangan itu. saat juna mendekat, menempelkan senjata pusaka kita berdua dalam satu genggaman. sensasi yang begitu berbeda yang baru gue rasakan dan mengingatnya tanpa disadari ada yang berontak sampai membuat sesak isi celana.


