Kembali ke kebiasaan, malam itu aku login mig33 lagi. Setelah masuk home, ternyata gusti sudah ada online. Kemudian aku kembali masuk ke room GB.
"met malem igby sayang" satu pesan menyambut kehadiranku di room itu yang tak lain adalah gusti
"Wehh, siapa itu gus?" Tanya salah satu user
"Berondong aku donk" jawab gusti di akhiri emote senyum
"Lah, emang sama yang itu udah putus ya?" Tanya user yang lain
karena memang setahu mereka yang udah kenal gusti, pacarnya itu bukan aku. ya aku juga bukan pacarnya gusti kok, gustinya aja itu yang iseng banget panggil sayang di room. Apes memang kayaknya malam itu, niat hati masuk room cuma agar bisa chat sama gusti, tapi gegara gusti juga aku malah dijadikan topik pembahasan mereka di room. Malahan ada yang coba becandain aku diroom. Memang, di room itu gusti termasuk yang paling famous diantara penghuni room yang lain. Gegara keisengan gusti pula lah yang memanggilku dengan sebutan sayang, keberadaanku diroom itupun mulai diperhatikan. Malahan request pertemananku jadi bertambah.
Beberapa minggu berlalu, seperti yang dijanjikan malam kemarin. sekitar pukul 7 malam aku dan gusti kembali bertemu. dan Ini adalah kali kedua pertemuan aku dan gusti. Dia mengajak aku untuk kerumahnya. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk dan duduk di kursi sofa ruang tamu.
"Kamu kenapa diem aja" tanya gusti sambil berjalan mendekatiku yang sedang duduk di sofa
"Gpp kok" jawabku sambil tersenyum
"Ga usah kaya orang lagi bertamu gitu donk, kaya canggung banget aku liat" kata gusti
"Aku gak suka ah kalo kamu banyak diem" kata gusti lagi
“Kok sepi ya? Orang rumah pada kemana?” Tanyaku sambil tangan mengambil handphone disaku
“Lagi keluar kota, baru tadi siang berangkat” kata gusti
“Terus kamu kenapa ga ikut” tanyaku
“Ya aku ga ketemu kamu donk kalo ikut pergi” jawab gusti
“Hehe, pantesan maksa bener tadi ditelepon nyuruh kesini” ucapku
“Yaudah tunggu bentar ya, aku mau keluar dulu beli minum” kata gusti
Aku hanya menganggukan kepala tanda menyetujui. setelah gusti pergi akupun lanjut memainkan handphone yang sudah daritadi aku pegang. Jempolku sibuk menekan-nekan kursor analognya mencari aplikasi mig33. Kemudian aku login dan seperti biasa masuk ke room favorit.
Lagi asik ketawa-ketawa sendiri sambil lihat layar handphone, tiba-tiba gusti sudah kembali membawa beberapa kantong plastik. Dan menyimpannya di meja depan aku. Lalu pergi lagi menuju kamar, tak lama dia keluar. Rupanya gusti habis ganti celana yang tadinya memakai jeans warna hitam sekarang dia cuma pakai boxer putih bergambar mickey mouse.
“Kamu beli apa? Banyak banget?” Tanyaku
“Beli minum aja sama snack” jawab gusti sambil membuka kantong plastik di meja dan mengeluarkannya. Ternyata gusti membeli minuman alkohol bermerk whisky, dua kaleng calpico dan dua bungkus kacang kulit berukuran besar serta satu bungkus rokok starmild.
“Ini kok kamu malah beli ginian?” Tanyaku heran
“Bukannya kamu yang ngajak ya” jawab gusti
“Kapan aku ngajak?” Tanyaku makin heran
“Masa ga inget?” Gusti malah balik tanya
“Iya kapan? Tadi kita gak ngomongin bakal minum kan? Ga ada loh serius” jawabku
“Ya bukan tadi sih emang, tapi waktu kamu telpon dan kamu dalam keadaan mabuk” kata gusti
“Pas malem minggu kapan, kamu lagi ngumpul sama temen-temen kamu. Aku telpon tapi kamu reject terus” sambung gusti
“Terus Pas kamu telpon balik, kamu ngomongnya ngelantur dan ngasih tau kalo kamu abis minum-minum sama temen-temen kamu” ucap gusti lagi
“Iya gitu?” Tanyaku agak penasaran
“Iya loh, terus kamu bilang. Kapan-kapan kita minum berdua ya. Gitu” jawab gusti.
sambil memutar tangan membuka tutup botol whisky. Kemudian gusti menuangkan minuman itu ke tutup botol dan menyodorkannya ke aku
“Kamu duluan” ucap gusti
Aku yang sedari tadi ngobrol sama gusti dan sibuk balas chat di mig33, langsung menyimpan handphone dan mengambil sloki alias alas minum yang yang dipake dari tutup botolnya. Glekk, aku menenggak sekaligus minuman itu. Rasa pahit langsung terasa dilidah, baunya yg khas langsung tercium dan rasa hangat mulai masuk ditenggorokan. Aku memejamkan mata sesaat menahan rasa pahit sambil tangan langsung menyimpan sloki di meja dan mengambil calpico lalu membuka tutupnya dan meminumnya sedikit. Tak lupa, aku ambil sebatang roko dan membakarnya.
Silih berganti, aku dan gusti habiskan sloki demi sloki, isi whisky dalam botolpun sudah tinggal setengahnya. Cangkang-cangkang kacang berserakan dimeja. Dan aku, mulai merasakan seperti hilang keseimbangan.
“Stop dulu lah” jawabku sambil mengambil korek dan menyalakan rokok
“Naik ya?” Tanya gusti dibarengi tawa
“Ngga sih, cuma pahit bener ini” ucapku mengelak
“Alah alesan” jawab gusti yang kemudian sama mengambil rokok dan membakarnya.
Sambil merasakan tubuh yang terasa melayang, aku ambil handphone kembali. Aku membaca chat-chat yang ada di room. Seperti orang gila, aku tersenyum-senyum sendiri, kadang tiba-tiba tertawa membaca chat-chat diroom yang terasa lucu.
“Kamu liat apa sih yank” tiba-tiba gusti bertanya sambil mendekat padaku
“Ini loh, ada yang berantem di room” jawabku
“Coba aku liat” kata gusti sambil meraih tanganku yang sedang memegang handphone
“Mana gak ada juga” kata gusti setelah melihat handphoneku
“Ya scroll aja ke atas” kataku sambil menyerahkan handphone ke tangan gusti
Aku kemudian menyandarkan kepala disofa karena semakin kesini, semakin aku terasa kehilangan keseimbangan. Sementara gusti, duduk bersila menghadapku sambil tangan sibuk memainkan handphoneku. Terlihat Gusti seperti mengetik membalas chat di room.
Melihat wajah gusti yang terkena sorotan lampu layar handphone, saat gusti tersenyum, ketampanannya pun semakin begitu terlihat.
“Ganteng banget sih kamu” ucapku yang langsung menghentikan gusti yang sedang memainkan handphone
“Apaan sih” jawab gusti sambil menutup wajahku dengan bantal sofa
“Iya loh, apalagi bibirnya itu” sambungku
“Halah, gausah muji-muji. Bilang aja kamu pengen” jawab gusti yang seketika membuat aku merasa malu dan deg-degan karena aku gak mengira gusti akan bicara seperti itu.
“Nih kalo pengen” lanjut gusti sambil menyimpan handphone dan memejamkan matanya.
Aku yang sama sekali tak mengira akan hal itu, kini seperti dibuat bingung. Antara ingin dan canggung. Karena sama sekali aku belum pernah melakukan hal itu, tapi ternyata rasa maluku kalah dengan rasa penasaran yang sudah membebani pikiranku sesaat lalu. aku pun mendekatkan wajahku dan akhirnya baru saja aku mencium bibir gusti, hanya sesaat tapi begitu terasa.
Akupun kembali ke posisiku, duduk bersandar di sofa dengan kepala menengadah keatas langit-langit. Tapi tiba-tiba gusti beranjak dan langsung duduk diatas pahaku, menghadapku, dan dengan sangat cepat dia mencium bibirku. Berkali-kali bibir gusti mendarat tepat dibibirku. Seperti coklat yang lumer dimulut, selembut itulah kira-kira yang aku rasakan. Selanjutnya, sudah pasti kita semua tau apa yang terjadi berikutnya diatas sofa itu.
Keringat masih membasahi tubuh aku dan gusti setelah hampir satu jam saling melepas hasrat. Dan gusti masih memeluku erat saat itu. Kemudian aku melepas pelukan gusti. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, itu artinya aku harus pulang. Aku kemudian menelpon salah satu temanku untuk menjemputku, ditempat yang sudah aku tentukan pastinya. Sambil menunggu temanku jalan, aku pergi membersihkan badan ke kamar mandi.
“Kamu beneran mau pulang?” Tanya gusti sesaat setelah aku selesai dari kamar mandi
“Iya, temen lagi dijalan mau jemput” kataku
“Ouh, yaudah” jawab gusti sambil kemudian berdiri dan melangkah menuju kamar mandi
Tak lama, temanku sms mengabarkan kalau dia sudah sampai, setibanya gusti dari kamar mandi. Aku langsung pamit dan pergi meninggalkan rumah gusti. aku berjalan kaki menuju ke tempat teman yang menungguku di pertigaan jalan kurang lebih jaraknya sekitar 200 Meter.
"Aku udah nyampe rumah" isi sms yang aku kirim ke gusti setelah sampai rumah
"Oke" balas gusti sangat singkat.
Berhubung waktu sudah malam, akupun tidur. Pagi-pagi disaat bangun, aku ambil handphone tapi ko tak seperti biasanya, tak ada sms baru ataupun missed call dari gusti. Yang mana hampir disetiap hari biasanya suka ada sms baru dari gusti di setiap aku bangun dari tidur.
"met malem igby sayang" satu pesan menyambut kehadiranku di room itu yang tak lain adalah gusti
"Wehh, siapa itu gus?" Tanya salah satu user
"Berondong aku donk" jawab gusti di akhiri emote senyum
"Lah, emang sama yang itu udah putus ya?" Tanya user yang lain
karena memang setahu mereka yang udah kenal gusti, pacarnya itu bukan aku. ya aku juga bukan pacarnya gusti kok, gustinya aja itu yang iseng banget panggil sayang di room. Apes memang kayaknya malam itu, niat hati masuk room cuma agar bisa chat sama gusti, tapi gegara gusti juga aku malah dijadikan topik pembahasan mereka di room. Malahan ada yang coba becandain aku diroom. Memang, di room itu gusti termasuk yang paling famous diantara penghuni room yang lain. Gegara keisengan gusti pula lah yang memanggilku dengan sebutan sayang, keberadaanku diroom itupun mulai diperhatikan. Malahan request pertemananku jadi bertambah.
Beberapa minggu berlalu, seperti yang dijanjikan malam kemarin. sekitar pukul 7 malam aku dan gusti kembali bertemu. dan Ini adalah kali kedua pertemuan aku dan gusti. Dia mengajak aku untuk kerumahnya. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk dan duduk di kursi sofa ruang tamu.
"Kamu kenapa diem aja" tanya gusti sambil berjalan mendekatiku yang sedang duduk di sofa
"Gpp kok" jawabku sambil tersenyum
"Ga usah kaya orang lagi bertamu gitu donk, kaya canggung banget aku liat" kata gusti
"Aku gak suka ah kalo kamu banyak diem" kata gusti lagi
“Kok sepi ya? Orang rumah pada kemana?” Tanyaku sambil tangan mengambil handphone disaku
“Lagi keluar kota, baru tadi siang berangkat” kata gusti
“Terus kamu kenapa ga ikut” tanyaku
“Ya aku ga ketemu kamu donk kalo ikut pergi” jawab gusti
“Hehe, pantesan maksa bener tadi ditelepon nyuruh kesini” ucapku
“Yaudah tunggu bentar ya, aku mau keluar dulu beli minum” kata gusti
Aku hanya menganggukan kepala tanda menyetujui. setelah gusti pergi akupun lanjut memainkan handphone yang sudah daritadi aku pegang. Jempolku sibuk menekan-nekan kursor analognya mencari aplikasi mig33. Kemudian aku login dan seperti biasa masuk ke room favorit.
Lagi asik ketawa-ketawa sendiri sambil lihat layar handphone, tiba-tiba gusti sudah kembali membawa beberapa kantong plastik. Dan menyimpannya di meja depan aku. Lalu pergi lagi menuju kamar, tak lama dia keluar. Rupanya gusti habis ganti celana yang tadinya memakai jeans warna hitam sekarang dia cuma pakai boxer putih bergambar mickey mouse.
“Kamu beli apa? Banyak banget?” Tanyaku
“Beli minum aja sama snack” jawab gusti sambil membuka kantong plastik di meja dan mengeluarkannya. Ternyata gusti membeli minuman alkohol bermerk whisky, dua kaleng calpico dan dua bungkus kacang kulit berukuran besar serta satu bungkus rokok starmild.
“Ini kok kamu malah beli ginian?” Tanyaku heran
“Bukannya kamu yang ngajak ya” jawab gusti
“Kapan aku ngajak?” Tanyaku makin heran
“Masa ga inget?” Gusti malah balik tanya
“Iya kapan? Tadi kita gak ngomongin bakal minum kan? Ga ada loh serius” jawabku
“Ya bukan tadi sih emang, tapi waktu kamu telpon dan kamu dalam keadaan mabuk” kata gusti
“Pas malem minggu kapan, kamu lagi ngumpul sama temen-temen kamu. Aku telpon tapi kamu reject terus” sambung gusti
“Terus Pas kamu telpon balik, kamu ngomongnya ngelantur dan ngasih tau kalo kamu abis minum-minum sama temen-temen kamu” ucap gusti lagi
“Iya gitu?” Tanyaku agak penasaran
“Iya loh, terus kamu bilang. Kapan-kapan kita minum berdua ya. Gitu” jawab gusti.
sambil memutar tangan membuka tutup botol whisky. Kemudian gusti menuangkan minuman itu ke tutup botol dan menyodorkannya ke aku
“Kamu duluan” ucap gusti
Aku yang sedari tadi ngobrol sama gusti dan sibuk balas chat di mig33, langsung menyimpan handphone dan mengambil sloki alias alas minum yang yang dipake dari tutup botolnya. Glekk, aku menenggak sekaligus minuman itu. Rasa pahit langsung terasa dilidah, baunya yg khas langsung tercium dan rasa hangat mulai masuk ditenggorokan. Aku memejamkan mata sesaat menahan rasa pahit sambil tangan langsung menyimpan sloki di meja dan mengambil calpico lalu membuka tutupnya dan meminumnya sedikit. Tak lupa, aku ambil sebatang roko dan membakarnya.
Silih berganti, aku dan gusti habiskan sloki demi sloki, isi whisky dalam botolpun sudah tinggal setengahnya. Cangkang-cangkang kacang berserakan dimeja. Dan aku, mulai merasakan seperti hilang keseimbangan.
“Stop dulu lah” jawabku sambil mengambil korek dan menyalakan rokok
“Naik ya?” Tanya gusti dibarengi tawa
“Ngga sih, cuma pahit bener ini” ucapku mengelak
“Alah alesan” jawab gusti yang kemudian sama mengambil rokok dan membakarnya.
Sambil merasakan tubuh yang terasa melayang, aku ambil handphone kembali. Aku membaca chat-chat yang ada di room. Seperti orang gila, aku tersenyum-senyum sendiri, kadang tiba-tiba tertawa membaca chat-chat diroom yang terasa lucu.
“Kamu liat apa sih yank” tiba-tiba gusti bertanya sambil mendekat padaku
“Ini loh, ada yang berantem di room” jawabku
“Coba aku liat” kata gusti sambil meraih tanganku yang sedang memegang handphone
“Mana gak ada juga” kata gusti setelah melihat handphoneku
“Ya scroll aja ke atas” kataku sambil menyerahkan handphone ke tangan gusti
Aku kemudian menyandarkan kepala disofa karena semakin kesini, semakin aku terasa kehilangan keseimbangan. Sementara gusti, duduk bersila menghadapku sambil tangan sibuk memainkan handphoneku. Terlihat Gusti seperti mengetik membalas chat di room.
Melihat wajah gusti yang terkena sorotan lampu layar handphone, saat gusti tersenyum, ketampanannya pun semakin begitu terlihat.
“Ganteng banget sih kamu” ucapku yang langsung menghentikan gusti yang sedang memainkan handphone
“Apaan sih” jawab gusti sambil menutup wajahku dengan bantal sofa
“Iya loh, apalagi bibirnya itu” sambungku
“Halah, gausah muji-muji. Bilang aja kamu pengen” jawab gusti yang seketika membuat aku merasa malu dan deg-degan karena aku gak mengira gusti akan bicara seperti itu.
“Nih kalo pengen” lanjut gusti sambil menyimpan handphone dan memejamkan matanya.
Aku yang sama sekali tak mengira akan hal itu, kini seperti dibuat bingung. Antara ingin dan canggung. Karena sama sekali aku belum pernah melakukan hal itu, tapi ternyata rasa maluku kalah dengan rasa penasaran yang sudah membebani pikiranku sesaat lalu. aku pun mendekatkan wajahku dan akhirnya baru saja aku mencium bibir gusti, hanya sesaat tapi begitu terasa.
Akupun kembali ke posisiku, duduk bersandar di sofa dengan kepala menengadah keatas langit-langit. Tapi tiba-tiba gusti beranjak dan langsung duduk diatas pahaku, menghadapku, dan dengan sangat cepat dia mencium bibirku. Berkali-kali bibir gusti mendarat tepat dibibirku. Seperti coklat yang lumer dimulut, selembut itulah kira-kira yang aku rasakan. Selanjutnya, sudah pasti kita semua tau apa yang terjadi berikutnya diatas sofa itu.
Keringat masih membasahi tubuh aku dan gusti setelah hampir satu jam saling melepas hasrat. Dan gusti masih memeluku erat saat itu. Kemudian aku melepas pelukan gusti. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, itu artinya aku harus pulang. Aku kemudian menelpon salah satu temanku untuk menjemputku, ditempat yang sudah aku tentukan pastinya. Sambil menunggu temanku jalan, aku pergi membersihkan badan ke kamar mandi.
“Kamu beneran mau pulang?” Tanya gusti sesaat setelah aku selesai dari kamar mandi
“Iya, temen lagi dijalan mau jemput” kataku
“Ouh, yaudah” jawab gusti sambil kemudian berdiri dan melangkah menuju kamar mandi
Tak lama, temanku sms mengabarkan kalau dia sudah sampai, setibanya gusti dari kamar mandi. Aku langsung pamit dan pergi meninggalkan rumah gusti. aku berjalan kaki menuju ke tempat teman yang menungguku di pertigaan jalan kurang lebih jaraknya sekitar 200 Meter.
"Aku udah nyampe rumah" isi sms yang aku kirim ke gusti setelah sampai rumah
"Oke" balas gusti sangat singkat.
Berhubung waktu sudah malam, akupun tidur. Pagi-pagi disaat bangun, aku ambil handphone tapi ko tak seperti biasanya, tak ada sms baru ataupun missed call dari gusti. Yang mana hampir disetiap hari biasanya suka ada sms baru dari gusti di setiap aku bangun dari tidur.

