Juna Bukanlah Arjuna - Part 4

Hari ini adalah hari pembagian raport di sekolah gue. Seperti biasa kalau habis ujian semester, setelah pembagian raport suka ada pengumuman dari walikelas. Bukan pengumuman siapa yang dapet rangking pertama dikelas atau apapun itu, yang gue tunggu adalah pengumuman libur panjang sekolah. karena beberapa hari kemarin Gue, juna dan 4 teman lainya merencanakan untuk mengisi libur sekolah dengan pergi camping ke salah satu air terjun yang berada di kaki gunung disalah satu daerah yang lumayan jauh dari tempat gue tinggal.

Sepulangnya dari sekolah, gue langsung menuju ke rumah ryan. Iya, ryan adalah pencetus ide dari rencana camping ini. Dia adalah teman gue, tapi umurnya beda 4 tahun diatas gue. Tampangnya cakep, kulitnya putih, ceweknya banyak, bisa dibilang playboy lah si ryan ini. Hobinya ya itu naik gunung. Makanya sepulang sekolah gue langsung ke rumah ryan karena kita bakal breafing terakhir sebelum keberangkatan besok hari.
sampai dirumah ryan, sudah ada fendi, radit dan tentu saja ryan sang tuan rumah. Mereka lagi siapin beberapa barang yang bakal dibawa besok, kita bakal camping selama 3 hari 2 malam di hutan. Dan buat gue, ini bakal jadi pengalaman camping pertama kalinya. Berbeda sama beberapa teman lain mereka udah pernah camping sebelumnya.

Ryan: "si juna mana jazz?" belum juga gue nyampe beranda rumah, tiba-tiba si ryan udah nanya duluan.

Gue: "lah mana gue tau, kirain udah pada disini semua" jawab gue

Ryan: " yee kan loe yang sering bareng si juna. Si abenk juga belum datang"

Fendi: " itu mereka tuh" seru fendi sambil tangannya menunjuk, kompak gue, ryan dan radit menoleh ke arah jalan dan memang terlihat juna dan abeng sedang berjalan. Tak lama juna dan abenk pun sampai.

Juna: "sorry telat men, tadi nyokap gue rada ribet"

Ryan: "Gak apa-apa sih, santai aja. Loe bawa gitar buat apaan jun?"

Juna: "Mau gue bawa lah, buat hiburan disana"

Ryan: "oh yaudah, asal jangan jadi ribet aja entarnya"

Juna : "sipp"

Abenk: "jadi kita mau ngebahas apa nih sekarang?" tanya abeng ke ryan

Ryan: "ya soal biaya, apa aja yang bakal kita beli buat bekal" kata ryan

Gue: "beli rokok sama kopi aja dulu sekarang, biar asyik ngobrolnya. Iya gak jun?"

Juna: "yoi men, pinter loe!!"

Fendi: "ide bagus itu" timpal fendi

Radit: "gue sih setuju, loe gimana benk?" sahut radit dengan dibarengi pertanyaan ke abenk

Abenk: "gak bisa nolak gue mah" jawab abenk sambil cengengesan.

Ryan: "roko sama kopi mah udah gue beli duluan, tuh di kardus. Bikin aja sendiri kalo mau pada ngopi"

Gue: "asyik, gue ambil ya" dengan sigap gue langsung menuju ke kardus dan mengambil satu renceng kopi dan membawanya ke dapur. Lalu gue kembali dengan membawa segelas kopi panas.

Juna: "ehh busyet, loe bikin kopi cuma segelas?"

Gue: "kenapa emang? Kan gue yang mau ngopi, Loe kalo mau ngopi bikin sendiri. Hahaa"

Juna: " ahh sialan loe, males gue bikinnya, Sini aja itu barengan sama gue"

Abenk: "kadang loe ngeselin jazz, goblog amat dah bikin kopi cuma segelas doank" gerutu abenk ke gue sambil berlalu pergi menuju dapur yang diikuti fendi. gue lalu duduk dekat juna, tak lama fendi dan abenk pun kembali dan ryan memulai pembahasan, sampai semuanya fix dan besok pagi kita akan berangkat.
***
Pagi-pagi buta gue dan teman-teman sudah kumpul di rumah ryan, padahal fajar saja masih belum beradar diufuk. Dengan segela kelengkapan yang sudah siap, dan sebelum melangkahkan kaki, ryan mengajak kita berdoa terlebih dahulu. Setelah itu barulah kita berangkat. Sesuai kesepakatan, kita akan berangkat dengan menumpang kendaraan-kendaraan bak terbuka. Gak apa-apa gonta-ganti kendaraan yang terpenting berjalan searah menuju ke tempat tujuan. Udah ala-ala backpacker lah pokoknya kita. Sesampainya dijalan raya, Abenk memberi intruksi agar disaat kita akan menyetop mobil yang lewat, kita bikin 3 lapisan. Juna dan ryan ada di lapis pertama, jauh beberapa meter gue, radit dan fendi dilapis ke dua, dan lapis terakhir hanya abenk sendirian. Katanya biar effective, biar gak ada mobil yang lolos. Gue, radit dan fendi sengaja ditaro dilapis kedua, karna kita bertiga adalah pemula, demi meminimalisir ketegangan dan hal-hal yang bisa berakibat fatal.

Lumayan lama menunggu, akhirnya dari kejauhan terlihat mobile truck dan ryan langsung memberi komando, abenk langsung mundur jauh kebelakang sementara ryan dan juna berlari kedepan dan mereka berdua berdiri merentangkan tangan dibadan jalan, gue radit dan fendi sudah stand by ditengah mengikuti komando dari ryan. Mobil truck itu melaju kencang, terlihat lampu tembak dari mobil truck menyorot berkali-kali dengan diiringi suara klakson yang begitu keras. Semakin dekat saja mobilnya, juna dan ryan masih berdiri ditengah jalan. Dan tanpa diduga truck itu malah masuk ke lajur kanan melawan arah, juna dan ryan dengan cepat langsung menepi ke kiri, dan dari belakang abenk berteriak menyuruh gue, radit dan fendi untuk segera minggir. Dan mobil pun lolos tak bisa di stop. Memang waktu itu kondisi jalanan masih sepi, jadi pantas saja mobil trucknya bisa leluasa masuk ke lajur kanan dengan bebasnya.

Kembali kita berkumpul, sudah beberapa mobil terlewat karena kita tidak mampu untuk menyetop mobil. abenk akhirnya mengubah formasi. sekarang, abenk, ryan dan juna di baris depan sementara gue, radit dan fendi di baris belakang. dari kejauhan kembali terlihat mobil melaju ke arah kami, tapi kali ini bukan truck melainkan mobile pickup. ryan kemudian berseru agar kita segera mengatur posisi sesuai arahan abenk, buru-buru gue radit dan fendi mundur sementara abenk ryan dan juna berjalan ke depan dan memasuki badan jalan. terlihat abenk bertekuk lutut di aspal, ryan dan juna berdiri dibelakang abenk. mobil pickup semakin mendekat dengan laju yang lumayan kencang. abenk masih bertekuk lutut sambil tangan seperti sedang menyembah, seperti tak merasa gentar abenk tetep kukuh meski mobil pickup semakin dekat. bunyi klakson panjang keluar dari mobil pickup, jarak mobil kini tinggal beberapa meter dan cekiitt, sura rem terdengar mobil pickup terhenti hampir setengah meter jaraknya dari tubuh abenk.

Sopir: "Monyet, sialan. loe mau cari mati? punya banyak nyawa loe?" tiba-tiba sopir pickup itu memarahi abenk dengan mata melotot penuh emosi, kemudian abenk berdiri dan mendekat kearah sopir

Abenk: " maaf beh, kita mau ikut numpang kedepan. boleh ya beh?" dengan nada pelan abenk menjawab makian sopir pickup. Tapi tiba-tiba ryan langsung meloncat ke bak mobil diikuti juna yang kemudian berteriak mengajak gue radit dan fendi untuk segera ikut naik dan disusul dengan abenk yang meloncat. belum juga kami duduk tiba-tiba mobil langsung di gas, alhasil kita semua roboh jatuh dan saling bertumpuk didalam bak mobil. untunglah tak ada yang sampai jatuh keluar bak.

sudah lumayan jauh perjalanannya, mobil yang kita tumpangi berbelok masuk ke jalan kecil. ryan kemudian berdiri dan mendekat ke arah tempat sopir, dia minta berhenti dan mobil pun berhenti. kita semua turun dan ryan langsung bilang terima kasih ke sopirnya. kemudian kita melanjutkan perjalanan dengan kembali menumpang kendaraan-kendaraan lain sampai akhirnya tibalah kita dipertigaan jalan yang mengarah ke tempat tujuan. dari sini ternyata kita harus menempuh jarak sekitar 2KM dengan berjalan kaki. baru saja berjalan beberapa ratus meter, langkah kita terhenti karena ada palang portal dan dari pos keluar bapak-bapak yang sudah lumayan tua mengasongkan karcis masuk. gak mahal sih, cuma 3 ribu rupiah per orang. setelah membayar kita kembali melanjutkan perjalanan. mengikuti petunjuk-petunjuk dari papan arah yang terpasang di pinggir-pinggir jalan.

Melewati perbukitan, menyusuri jalan setapak yang terus menanjak dengan kanan kiri semak belukar. suasana hutan sudah mulai terasa, kicau burung begitu ramai bersahutan, pohon-pohon besar menjulang tinggi. hawa sejuknya begitu menyegarkan. rasa lelah dari perjalanan tadi pun sudah mulai terbayar. sesampainya dilokasi, sudah ada beberapa tenda yang berdiri dan ada pula satu yang baru mulai dipasang. ternyata bukan cuma kita saja yang camping disini. kita masih berjalan mencari-cari lokasi untuk mendirikan tenda. dan beruntunglah kita karena didepan ada areal yang cukup untuk mendirikan tenda dengan disampingnya ada sungai kecil yang banyak bebatuan, airnya sangat jernih cuma sayang banyak sampah-sampah plastik yang menyangkut di bebatuan sungai.

Kita mulai berbagi tugas, bekerja mendirikan tenda dan setelah selesai kita semua beristirahat. hari sudah sore, sesuai kesepakatan kemarin kita disini bagi tugas untuk siapin makan, minum dan lain-lain. tugas di hari dan malam pertama adalah jadwalnya gue, juna dan fendi. jadi walaupun masih capek, mau gak mau kita bertiga harus nyari kayu bakar untuk masak sementara temen yang lain masih enak-enakan santai. kita bertiga lalu meninggalkan tenda menuju ke dekat air terjun sambil membawa panci dan beras yang bakal kita cuci.

Menjelang malam, kita semua berkumpul diluar menikmati suasana malam yang begitu indah. kebetulan langit cerah, bintang bertaburan diangkasa mengitari sang bulan yang bersinar hanya separuh. dan api ungun yang kita nyalakan hanya mampu menerangi seadanya saja. sedang juna duduk santai diatas batu memainkan gitarnya dan kita semua asyik nyanyi-nyanyi tiba-tiba abenk berdiri dan masuk ke tenda. beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa satu botol whiskey ditangan.
abenk: "men, malam pertama kita disini bakal lebih indah dengan ini" sambil dia mengacungkan botol whiskey
ryan: "wuihh, keren loe sob. tau aja kalau itu kita butuhin"
abenk: "yoi men, gue tau lah kita semua bakal butuh kehangatan disini"
tanpa pake acara lama, abenk langsung membuka tutup botol dan menuangkan whiskey ke gelas. tanpa ada arahan pun kita semua sudah paham untuk langsung atur posisi, duduk melingkar dan gelas pun berputar. rasa hangat sudah terasa setelah beberapa tegukan. sampai akhirnya putaran berakhir seiring isi dalam botol kering tak bersisa. nampak mata sedikit sayu dan memerah, pandangan sudah samar, gerak sedikit badan terasa goyah. aghhh, indah sangat indah. sudah seperti tak ada batas, begitu bebas, bernyanyi, bercanda dan tertawa lepas malam ini.

    source photo : flickr

tanpa terasa, malam semakin larut. angin malam yang berhembus sudah semakin terasa. satu persatu teman-teman mulai memasuki tenda mungkin mereka sudah mulai mengantuk, tinggal gue dan juna yang masih diluar ditemani bara api ungun yang mulai padam menyisakan asap putih yang membuat mata semakin pedih.

Juna: "masuk yok jazz, embun udah turun nih" juna beranjak bangun dan mengajak gue masuk ke tenda

Gue: " iya ya, rada basah juga nih" sahut gue yang langsung berdiri lalu berjalan memasuki tenda.
Di dalam temen-temen rupanya sudah tertidur pulas berjajar merapat. gue dan juna kebagian tempat paling pinggir. gue langsung rebahan berselimut sarung sementara juna malah melepas celananya dan diganti dengan sarung dan kemudian rebahan disamping gue. hawa dingin begitu terasa menembus tulang meskipun sudah berselimut tapi tak bisa menahan dinginnya kaki pun terasa membeku.

Gue: "jun, gak bisa tidur gue, kaki gue dingin banget" bisik gue ke juna yang tidur disamping gue

Juna: "loe tolol, mau tidur jeans loe ga dilepas. ye pasti dingin lah" jawab juna

Gue: "emang ngaruh ye?" tanya gue lagi

Juna: "ye coba aja loe lepas celananya" akhirnya gue pun ngikut saran juna, gue lepas celana dan cuma memakai sarung seperti juna.

Gue: "gak ngaruh ah, sama aja masih dingin"

Juna: "tapi gak sedingin waktu tadi pakai jeans kan?" jawab juna

Gue: "dikit sih|"

Juna: "ehh, gimana kalau kita pake satu sarung berdua aja, satu lagi sarungnya buat selimut. biar gak terlalu dingin"

Gue: "boleh-boleh"

Juna: "mau sarung gue atau sarung loe yang buat kaki?"

Gue: "sarung loe aja, sarung gue buat selimutnya"
juna kemudian melongggarkan sarungnya dan nyuruh kaki gue masuk ke sarung juna. kali ini kaki gue dan juna sudah didalam satu sarung, juna menumpangkan kakinya diatas kaki gue, paha kita saling bersentuhan. efeknya memang lumayan kaki gue mulai terasa gak sedingin tadi. tapi ada hal aneh yang malah terjadi, pelan-pelan dari dalam CD gue terasa ada yang mulai bangun. sementara kaki juna sesekali bergerak, paha kita saling bergesekan dan itu membuat gue jadi gak kontrol. gue jadi was-was, takut kalau tiba-tiba juna gak sengaja menyentuh dan dia jadi tau kalau 'punya' gue lagi bangun.

Gue coba balik badan membelakangi juna, tapi sial posisi kaki gue dan juna sedang saling bertumpu dan sarung tertindih kaki yang membuat ruang gerak menjadi kaku.

Juna: "loe kenapa sih? gak bisa diem dari tadi" tiba-tiba juna nyeletuk

Gue: "mmm, ngga ko. cuma berasa dingin aja ini" jawab gue rada gugup. dan tak disangka, juna malah bergerak mengangkat kakinya dan memiringkan badan lalu menaruh pahanya tepat diatas 'punya' gue. seperti merasa kaget juna kemudian bangun dan menyikutkan tangannya ke tubuh gue.

Juna: "k****l loe bangun ya?keras banget tadi berasa"

Gue: " #&^?*/- " njirr, mampus gue. sumpah gue bingung mau jawab apa

Juna: "woyy, pura-pura tidur lagi" omong juna lagi sambil kembali menyikut gue

Gue: " gak tau jun, efek alkohol mungkin ini" kelakar gue

Juna: "haaha, dasar loe" tiba-tiba juna malah tertawa kecil dan kembali tidur seperti posisi sebelumnya.
Dan gue langsung menghela nafas, melihat respon juna seperti itu. gue pikir dia bakal marah atau ngomong macem-macem ke gue.

Juna: "gue kira cuma gue doank" juna berbisik pelan ke telinga gue

Gue: "apaan yang yang loe doank?" tanya gue heran. tapi bukan jawaban yang keluar dari mulutnya, malah tangan juna secara tiba-tiba memegang tangan gue dan menyentuhkan ke 'punya'nya si juna.

Juna: "iya kan jazz" bisiknya

Gue: "loe apa-apaan dah, pake tangan  gue dipaksa nyentuh segala" jawab gue sambil buru-buru menarik kembali tangan gue.

Juna: "hahaa, biar loe tau aja" jawab juna simple

Gue: "lagi keras banget ya jun?"

Juna: "iye, kena tangan loe tadi malah nambah makin keras nih"
Speechless dan sumpah gue heran dengar ucapan juna seperti itu. tapi belum juga keheranan gue berakhir, gue dikejutkan oleh fendi yang tidur disebelah gue yang mendadak bangun

Fendi: "bisa diem gak sih, gerak-gerak aja ganggu molor gue"

Gue: "ehh, tau tuh fen si juna"

Juna: "loe tolol, kenapa jadi nyalahin gue dah. gue kan paling pinggir"

Gue: "ohh iya ya, hahaa. sorry sorry fen. udah yok dilanjut lagi tidurnya"
dan akhirnya kitapun memulai untuk tidur walau harus saling berhimpitan satu dengan lainnya didalam tenda.

You Might Also Like

Comments
0 Comments

0 comments

BERI KOMENTAR