Igby dan Mig33 part 2

Sejak perkenalan di migg33 antara aku dan gusti, sejak itu pula kita semakin sering berkomunikasi. Aku yang tadinya cuma login mig tiap malem akhirnya jadi sering login dan hampir gak tau waktu. Mau siang, sore bahkan pagi-pagi sekalipun.

Jujur saja, gusti ini orangnya asyik diajak ngobrol. Kita hampir gak pernah kehabisan topic, ada aja bahan untuk dibahas. Sampai suatu ketika, gusti meminta nomer teleponku. Tanpa pikir panjang akupun langsung mengirimkan nomer telepon dichat. Beberapa saat kemudian, ada panggilan masuk dengan nomer baru.

“Halo” ucapku sesaat setelah menerima panggilan masuk

“Iya halo juga” kata gusti terdengar seperti sambil tertawa

“Siapa ini?” Tanyaku pura-pura gak tau, padahal dalam hati sudah aku tebak pasti gusti

“Gusti, kan tadi aku minta nomer kamu di migg” jawab gusti

“Ouh, iya iya” jawabku pendek

Sejenak tak ada percakapan lagi antara aku dan gusti ditelepon, karena memang aku masih merasa canggung, ngobrol ditelepon dengan cowok yang belum aku kenal banget dan hanya tau dari chat. Kalo sama teman sih mungkin biasa, kalo si gusti ini kan beda.

“Ehh kok diem sih? Ngomong donk, pulsa mahal loh” tiba-tiba gusti kembali bicara

“Oh iya, sorry sorry” jawabku

“Kenapa sih? Kok kayak yang nervous gitu” tanya gusti

“Hehee, iya kayaknya nih” jawabku

Selanjutnya aku dan gusti pun ngobrol seperti biasa.


Hari berganti minggu berlalu, sudah hampir 3 bulan aku mengenal gusti, Aku merasa semakin dekat dengan gusti. Selama itu pula, gusti sering menceritakan kehidupan pribadinya, dari hal paling konyol sampai ke yang membuatnya menangis. Tak hanya itu, akhirnya aku juga tau kalo gusti bukan asli orang bandung. Orang tua gusti tinggal dikota yang sama yang saat ini aku tinggal. Hanya saja, gusti di bandung dari sejak sekolah SMA sampai kuliah tinggal dengan saudara mamahnya.

Ada alesan kenapa gusti dibandung dari sejak mulai SMA, dulu semasa SMP dia sempat mendapat kejadian yang akhirnya membuatnya seperti ini. Untuk menjauh dan melupakan kejadian itu, dia sengaja pindah kebandung. Tapi entah karena pergaulan atau memang harus jalannya. Dia justru malah terjerumus dan malah masuk lebih dalam. Untuk menolakpun sepertinya gusti tak mampu, akhirnya gusti menerima dan menjalani kehidupan yang berbeda dari kebanyakan orang sampai saat ini. Yaa, gusti menjadi seorang h*****x.

Dari cerita gusti pula, akhirnya aku tau. Bahwa ternyata gusti sudah mempunyai pacar sejak dari kuliah. Bahkan gusti sempat menangis saat meceritakan sosok pacarnya. Gusti bilang pacarnya itu possesif, juga sedikit temperamental. Ada kesalahan sedikit dari gusti dimata pacarnya, seketika itu juga cacian dan makian bahkan tamparan bisa melayang dan hinggap ke pipi gusti. Tapi gusti tetap bertahan, selain karena cinta, gusti juga merasa tak enak hati kalau harus putus. karena pacarnya ini sudah banyak berkorban buat gusti, yang paling gampang dihitung adalah kebaikan pacar gusti dari segi materi. Mulai dari bantu biaya kuliah hingga kebutuhan harian gusti, pacarnya selalu memberi.


Semenjak aku hadir dalam kehidupan gusti, disaat gusti dan pacarnya sedang marahan, gusti selalu langsung meneleponku dan menceritakan segala kejadiannya, bahkan gusti suka meminta pendapat dan masukan dariku. Siapalah aku, disaat gusti curhat akan hubungannya dan meminta pendapat. Aku yang bukan siapa-siapa kadang suka bingung sendiri, jangankan kasih masukan. Untuk pengalaman pacaran yang serumit itu pun aku belum pernah. Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk gusti. Dan menghibur seadanya saja kalau gusti lagi sedih.


Celakanya, sikap yang aku berikan ke gusti justru malah memperumit keadaan, buah dari kedekatan aku dengan gusti menghasilkan sebuah rasa yang tak biasa. Gusti menyatakan suka padaku disuatu malam saat kita sedang telponan. Begitupun aku, Ketertarikanku terhadap gusti, seperti terus tumbuh dari hari ke hari. Aku dan gusti seperti ingin ada hubungan lebih, bukan sekedar teman.


“Besok aku pulang ke p*******a” kata gusti

“Pokoknya kita harus ketemu” kata gusti lagi

Belum sempat aku menjawab, gusti langsung menutup telpon. waktu itu malam jumat, Seperti malam-malam lainya kita selalu telponan. dari obrolan selama ditelepon, Gusti terus memaksaku agar bisa ketemuan, padahal aku sudah beberapa kali bilang untuk nanti saja. Sejujurnya aku juga belum siap untuk ketemu gusti. Tapi gusti tetap memaksa agar bisa ketemu, supaya gak cuma kenal di chat ataupun telpon saja.

Jumat sore sekitar pukul 16 gusti kembali telpon, dia ngasih tau kalo sedang diperjalanan menuju kota tempatku. Dan dia bilang akan menungguku di depan pusat perbelanjaan daerah s***** selepas isya, Atau sekitar pukul 7 malam. Seperti sudah tak ada alasan untuk menolak dan menunda, akupun mengiyakan saja.

Dengan menggunakan angkutan umum, aku pergi menuju tempat yang sudah gusti katakan. Sesampainya disana, aku mengabari gusti kalo aku udah sampai.

“Aku sudah disini” tulisku di sms

“Tunggu ya, aku lagi jalan kesana” balas gusti

“Oya, kamu pake baju apa?” Tanya gusti lagi

“Kaos skaters warna merah,” balasku

Tak ada balasan lagi dari gusti, dan tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak dengan pelan

“Hey, igby ya?” Tanya seseorang yang barusan menepuk pundak lalu maju kehadapanku sambil mengulurkan tangan

“Ehh iya” Refleks sambil menjawab akupun mengulurkan dan berjabat tangan dengan gusti. sementara mataku malah terpana akan kehadiran sosok yang sebelumnya tak pernah aku kira akan semenawan ini. Dengan potongan rambut pendek tapi bergaya mohawk, memakai kacamata, dengan hidung yang lancip dan bibir yang terlihat merah alami. Bisa dibilang si gusti ini sangat ganteng lah.

“Kamu tinggi juga yaa” suara gusti memecah keheningan

“Ngga ah, tinggian juga kamu” jawabku

“Coba coba sini” kata gusti sambil mendekat kesamping, lalu berdiri sejajar denganku. Telapak tangan gusti kemudian menempel dikepalanya dan bergeser mendekat tepat ke telingaku.

“Tuh kan, tinggian kamu” kata gusti lagi

Gusti ini, memang paling bisa kalo jadi ice breaker. Aku yang sebenernya masih kaku dan malu-malu karena baru pertama kali ketemu sama gusti aja sampai bisa tertawa. Tingkah gusti memperlihatkan seperti sudah sering ketemu saja waktu itu. Tanpa menghiraukan keadaan sekitar, aku dan gusti terus saja bercengkrama, berdiri saling berhadapan di pinggir jalan. Sampai tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Akupun pamit ke gusti untuk pulang. Tapi gusti menolak, Katanya baru sebentar masa udah mau pulang. Lalu akupun menjelaskan, kalau terlalu malam khawatir tak ada lagi angkutan umum yang menuju ke tempatku. Akhirnya dengan terlihat seperti keberatan, gusti pun mempersilahkan aku untuk pulang.

You Might Also Like

Comments
0 Comments

0 comments

BERI KOMENTAR